Dilema Milenial, Protes di Media Sosial dan Rawat Orangtua Boomer
Ilustrasi.(Magnific)

DI dunia maya, generasi milenial tampak sedang mengobarkan pemberontakan terbuka terhadap orangtua mereka dari generasi baby boomer yang kian menua. Namun, di balik layar kehidupan nyata di Amerika Serikat, mereka justru sudah memikul beban sebagai pengasuh tanpa bayaran, kelelahan, dan sering kali dalam kondisi finansial yang sulit.

Satu utas di Reddit dari komunitas r/BoomersBeingFools kembali viral bulan ini. Jutaan orang merasa terhubung dengan unggahan yang menyatakan keengganan merawat orangtua mereka: “Bukan masalah, kami menolak merawat kalian. Panti jompo adalah tempatnya.” Unggahan tersebut, yang awalnya merespons artikel Vox tentang ketidaksiapan milenial menghadapi krisis perawatan lansia, muncul kembali tepat saat gelombang pertama boomer mulai menginjak usia 80 tahun pada Juli ini.

Berdasarkan laporan Wall Street Journal yang mengutip demografer William Frey dari Brookings Institution, sekitar 4 juta baby boomer akan mencapai usia 80 tahun tahun ini. Ini gelombang pertama dari generasi yang berjumlah 76 juta jiwa. Di kolom komentar, keluhan memuncak mengenai biaya perumahan, utang pendidikan, dan jaring pengaman sosial yang hancur, dengan argumen bahwa penolakan mereka hanyalah konsekuensi dari keputusan kebijakan yang dibuat oleh generasi boomer di masa lalu.

Realitas di Lapangan: Milenial sudah Menjadi Pengasuh

Meskipun narasi di internet menunjukkan perlawanan, data menunjukkan hal yang sangat berbeda. Milenial justru menjadi generasi pengasuh secara default. Menurut data Population Reference Bureau, jumlah pengasuh keluarga yang membantu lansia melonjak 32% antara tahun 2011 dan 2022, dari 18,2 juta menjadi 24,1 juta orang. Anak dewasa tetap menjadi kategori pengasuh keluarga terbesar di Amerika, yakni sebesar 40,7%.

Tren hidup dalam rumah tangga multigenerasi juga meningkat. Lebih dari 66 juta warga Amerika, atau sekitar satu dari empat orang, kini tinggal bersama orangtua mereka. Pew Research menyebut fenomena ini lebih didorong oleh kebutuhan finansial daripada sekadar bakti keluarga. Secara fungsional, kondisi ini justru memperdalam kewajiban perawatan daripada menghapusnya. Singkatnya, kemarahan di Reddit hanyalah suasana hati (mood), sementara data Biro Statistik Tenaga Kerja ialah beban kerja yang nyata.

Faktor Struktural yang Memaksa:

  • Ukuran keluarga yang lebih kecil (sedikit saudara untuk berbagi tugas).
  • Jarak geografis yang jauh antara anak dan orangtua.
  • Kelangkaan tenaga perawat profesional yang terjangkau.

Ironi pahit bagi milenial adalah harapan akan transfer kekayaan terbesar dalam sejarah yang mulai sirna. Analisis Realtor.com terhadap data Visa Business and Economic Insights menunjukkan bahwa meskipun boomer memegang aset sekitar Rp1.500 kuadriliun (US$93 triliun), hanya sekitar Rp580 kuadriliun (US$36 triliun) yang kemungkinan besar akan sampai ke tangan ahli waris Gen X dan Milenial dalam 20 tahun ke depan.

Artinya, ahli waris mungkin hanya menerima sekitar 39 sen dari setiap satu dolar (sekitar 40% dari nilai aset). Sisanya habis untuk biaya hidup masa pensiun, utang, pajak, dan biaya perawatan kesehatan yang mahal. Evan Mills, penasihat keuangan di Scholar Advising, mencatat bahwa rumah sering kali menjadi aset terakhir yang tersisa, tetapi biasanya berubah menjadi dana darurat pensiun sebelum sempat diwariskan kepada anak-anak.

Pada akhirnya, gambaran nyata saat ini bukanlah milenial yang membangkang dan meninggalkan orangtua mereka di panti jompo. Sebaliknya, jutaan milenial secara diam-diam menanggung beban tenaga dan finansial untuk merawat orangtua mereka, dengan warisan yang terus menyusut–atau bahkan tidak tersisa sama sekali–di akhir perjalanan tersebut. Pemberontakan itu, ternyata, hanya terjadi di kolom komentar. (Fortune/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *