Daraloka Angkat Isu PMOS dan Stigma Perempuan Lewat Asa Dara
Daraloka dari mahasiswa LSPR menggelar Asa Dara untuk meningkatkan kesadaran tentang PMOS, kesehatan hormonal, serta stigma sosial dan budaya terhadap perempuan Indonesia.(Shdiqi Syaamil Henggajaya (@henggajaya), Agung Prasetyo Teguh Wahono (@agngprsy))

Daraloka, program Community Development yang diinisiasi oleh mahasiswa dan mahasiswi konsentrasi Marketing Communication LSPR Institute of Communication & Business, sukses menggelar acara puncaknya, Asa Dara, di Tamananda Lifestyle Park, Cilandak, pada Minggu, 26 Juli 2026. Mengangkat tema “Beyond the Stigma: How Indonesian Culture Shapes Women’s Wounds”, acara ini mengajak masyarakat untuk lebih memahami kesehatan hormonal perempuan, khususnya PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome), sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap stigma sosial dan budaya yang masih dihadapi perempuan di Indonesia.

Acara diawali dengan PMOS Yoga, dilanjutkan Press Conference bersama dosen pembimbing LSPR Institute of Communication & Business, Founder Komunitas Kata Nona, Ketua Daraloka, dan media partner untuk memperkenalkan kampanye serta tujuan dari program Daraloka.

Sebagai bagian dari pengalaman yang lebih interaktif, Daraloka menghadirkan “Dara Bersuara”, sebuah interactive exhibition yang mengangkat cerita tentang stigma, tekanan sosial, dan perjalanan para PMOS fighter. Pengunjung diajak menikmati berbagai instalasi interaktif, mulai dari Visual Installation, Audio Experience yang difasilitasi oleh Love Line, Message of Love, hingga Interactive Wall. Pameran ini merupakan hasil kolaborasi bersama lebih dari 10 seniman lokal yang bersama-sama ingin membangun awareness, menumbuhkan empati, dan menghadirkan ruang yang aman bagi perempuan untuk saling mendukung.

Sesi utama berupa talkshow “Menjadi Perempuan” membahas pengaruh stigma sosial, budaya, dan ekspektasi terhadap perempuan, khususnya perempuan dengan PMOS. Talkshow ini menghadirkan dr. Mahatmasara Adhiwasa, Sp.OG, RA Oriza Sativa, S.Psi., Psi., CH., CCR, Prily Soetiman, dan Aya Canina, serta dipandu oleh Hapsa Arafa.

Sebagai bentuk refleksi diri, peserta juga mengikuti dua sesi workshop dari Flora Craftee, yaitu “Rangkai Rupa Diri: Bracelet Charm” yang mengajak peserta membuat gelang sebagai simbol dukungan dari orang-orang terdekat, serta “Rangkai Rupa Diri: Flower Arrangement” yang mengajak peserta merangkai bunga sebagai bentuk self-love dan penerimaan diri.

Acara ditutup dengan Karaoke Night bertema “No Sad Songs”. Pada sesi ini, peserta saling membagikan kartu bertuliskan “You Made Someone’s Night Better” sebagai bentuk apresiasi, yang kemudian ditutup dengan penampilan dari DJ Tithanauli.

“Daraloka, menjadi bukti nyata dalam mempraktikkan konsep dan teori menjadi suatu acara, kampanye, baik offline maupun online, dan aktivasi yang melibatkan banyak mitra, sehingga membentuk pemahaman bagi audiens atau peserta yang hadir akan isu PMOS, kesetaraan, dan inklusifitas,” ujar Melvin Bonardo Simanjuntak, M.I.Kom, selaku dosen pengampu mata kuliah Community Development.

“Bersama Daraloka, Kata Nona percaya bahwa membicarakan PMOS secara terbuka adalah bentuk keberpihakan pada perempuan; mengakui ketubuhan dan tantangan psikososial mereka, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan komunitas lain,” ujar Aya Canina, selaku founder komunitas Kata Nona

“On behalf of the Board of Directors of Karyadeka Group, we extend our sincere appreciation to the Marketing Communications Department of LSPR Institute of Communication & Business for entrusting Tamananda Park as the venue for ASA DARA, collaboration between Daraloka and Kata Nona. It has been a privilege to support this event, and we remain committed to fostering meaningful collaborations that inspire creativity, innovation, and excellence. We extend our sincere appreciation for the trust placed in us and wish the event every success,” ujar Ovie Noviarani, selaku tim event and partnership Tamananda Lifestyle Park.

Melalui rangkaian kegiatan ini, Daraloka berharap semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap kesehatan hormonal perempuan, lebih memahami PMOS, serta bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan bebas dari stigma. (RO/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *