Inovasi Pupuk Bokashi dari Residu Garam Rumput Laut dari Guru Besar IPB University
Ilustrasi–Pekerja memanen rumput laut jenis Glacilaria Sp di areal tambak Desa Pabean udik, Indramayu, Jawa Barat, Senin (13/4/2026).(ANTARA/Dedi Suwidiantoro)

LIMBAH industri rumput laut dan perikanan yang selama ini kerap menjadi persoalan lingkungan kini berhasil disulap menjadi solusi produktif. Guru Besar IPB University, Prof Nurjanah, mengembangkan inovasi pupuk organik bokashi yang memanfaatkan residu garam rumput laut dan limbah jeroan ikan.

Inovasi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kesuburan tanah, tetapi juga mengusung misi besar pertanian berkelanjutan melalui konsep zero waste dan ekonomi sirkular. Dengan memanfaatkan hasil samping industri, produk ini memberikan nilai tambah pada material yang sebelumnya tidak terpakai.

Keunggulan Nutrisi dan Bahan Baku

Pupuk bokashi ini memiliki keunggulan pada kandungan unsur hara makro dan mikro yang lebih lengkap dibandingkan pupuk organik konvensional. Hal ini dimungkinkan berkat kombinasi residu garam rumput laut dan pemanfaatan enzim dari limbah jeroan ikan yang kaya nutrisi.

“Inovasi ini memanfaatkan residu garam rumput laut dan limbah jeroan ikan sebagai bahan baku bernilai tambah, sehingga mendukung konsep zero waste, ekonomi sirkular, sekaligus meningkatkan kualitas nutrisi pupuk,” ujar Prof Nurjanah.

Ketersediaan bahan baku yang melimpah menjadi salah satu faktor kunci keberlanjutan inovasi ini. Berikut adalah rincian komponen utama penyusun pupuk bokashi tersebut:








Bahan Baku Sumber / Asal Limbah Fungsi Utama
Residu Garam Rumput Laut Industri pengolahan rumput laut Sumber hara makro & mikro
Limbah Jeroan Ikan Industri perikanan Meningkatkan kandungan nutrisi & enzim
Limbah Organik Terestrial Kegiatan pertanian (sekam, dedak) Bahan baku organik utama
Mikroorganisme Lokal (MOL) Limbah hayati, air kelapa, gula merah Agen fermentasi

Proses Produksi dan Tantangan Pengembangan

Pembuatan pupuk ini dilakukan melalui proses fermentasi selama tujuh minggu. Tahapannya dimulai dengan pembuatan larutan MOL, yang kemudian disemprotkan pada campuran residu garam rumput laut, sekam padi, dan dedak hingga mencapai tingkat kematangan bokashi yang siap digunakan.

Meski memiliki potensi besar, Prof Nurjanah mengakui adanya sejumlah tantangan dalam pengembangan produk secara masal, di antaranya:

  • Menjaga konsistensi kualitas bahan baku yang berasal dari limbah.
  • Pengendalian proses produksi agar mutu pupuk tetap stabil.
  • Membangun kepercayaan petani yang masih memiliki ketergantungan tinggi pada pupuk kimia.
  • Pemenuhan regulasi terkait pengujian mutu, perizinan, serta sistem distribusi.

Peluang Pasar dan Substitusi Impor

Kebutuhan akan pupuk organik di Indonesia terus meningkat seiring dengan kesadaran terhadap kelestarian lingkungan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, Indonesia masih melakukan impor pupuk organik dalam jumlah yang cukup signifikan.





Data Impor Pupuk Organik (BPS 2023) 5.367 Ton
Potensi Solusi Substitusi pupuk kimia & pengurangan ketergantungan impor

Prof Nurjanah berharap inovasi ini dapat memperkuat kedaulatan pangan nasional.

“Pupuk bokashi berbasis residu garam rumput laut berpotensi menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia,” pungkasnya.

Melalui integrasi sektor perikanan, rumput laut, dan pertanian, diharapkan tercipta ekosistem industri yang lebih hijau dan bernilai ekonomi tinggi. (Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *