Siap Tumbuh, Industri Perkapalan Butuh Keberpihakan Pemerintah dan Pembiayaan Kompetitif
Ketua Umum Institusi Perkapalan dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO), Anita Puji Utami.(Dok.Istimewa)

 

INDUSTRI perkapalan nasional memiliki kapasitas dan peluang pasar yang sangat besar untuk menjadi salah satu motor penggerak perekonomian nasional. 

Namun, potensi tersebut memerlukan dukungan nyata dari pemerintah melalui kebijakan yang berpihak, pembiayaan yang kompetitif, serta penerapan regulasi secara konsisten.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Institusi Perkapalan dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO), Anita Puji Utami saat memberikan  sambutan pada Seremoni Pembukaan INAMARINE 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (28/7). 

Anita mengatakan penyelenggaraan INAMARINE 2026 menjadi ajang strategis yang mempertemukan pelaku industri perkapalan, industri penunjang, penyedia teknologi, dan pengguna jasa maritim.

Menurutnya, pameran tersebut tidak hanya menjadi sarana promosi produk dan teknologi, tetapi juga membuka peluang kerja sama bisnis serta memperkuat ekosistem industri maritim nasional.

Pada ajang INAMARINE 2026, IPERINDO juga berpartisipasi aktif dengan menghadirkan booth seluas 114 meter persegi yang diisi oleh 20 perusahaan anggota. Kehadiran booth bersama tersebut menjadi wujud komitmen IPERINDO dalam mempromosikan kemampuan industri perkapalan nasional, industri penunjang, serta teknologi maritim buatan Indonesia kepada pelaku usaha dalam dan luar negeri. 

Anita menjelaskan, IPERINDO yang berdiri sejak 11 Maret 1968 hingga kini menghimpun 275 perusahaan anggota, terdiri atas 143 galangan kapal, 122 industri penunjang, tiga biro klasifikasi, dan tujuh perusahaan konsultan jasa maritim. 

Organisasi tersebut terus berkomitmen menjadi wadah yang mempersatukan pelaku industri sekaligus mendorong pertumbuhan industri galangan kapal, industri penunjang, konsultan maritim, dan biro klasifikasi di Indonesia.

Menurut Anita, kemampuan galangan kapal nasional saat ini sudah sangat memadai untuk membangun kapal baru maupun melakukan perawatan dan reparasi berbagai jenis kapal.

Industri galangan dalam negeri memiliki kapasitas membangun sekitar 1.200 unit kapal per tahun, dengan dukungan fasilitas reparasi yang mencapai 36.000 dock space.

Selain itu, industri penunjang nasional juga terus berkembang. Berbagai kebutuhan industri kapal seperti pelat baja, pipa, kabel, cat, mesin diesel, genset, crane, pompa, main switch board, steering gear, winch, hingga berbagai komponen kapal seperti pintu, jendela, railing, dan furnitur kini telah mampu diproduksi oleh industri dalam negeri.

Ia menilai prospek pasar industri kapal nasional masih sangat besar. Kebutuhan kapal berasal dari berbagai sektor, mulai dari kementerian, lembaga, dan BUMN, sektor hulu maupun hilir migas, pertambangan mineral dan batu bara, modernisasi armada perikanan, hingga program peremajaan kapal yang telah berusia di atas 25 tahun.

Untuk memanfaatkan peluang tersebut, Anita menekankan pentingnya tersedianya skema pembiayaan kapal yang kompetitif, dengan bunga rendah (single digit), tenor 10–15 tahun, serta memberikan kemudahan agar kapal yang sedang dibangun dapat dijadikan agunan sesuai progres pembangunan.

SIAPKAN RISET

Untuk mendukung industri perkapalan, Presiden Prabowo Subianto meminta perguruan tinggi mempersiapkan riset dan teknologi untuk meningkatkan kinerja dan memperkuat industri perkapalan dalam negeri, kata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto.

“Hari ini Bapak Presiden meminta terkait dengan industri perkapalan Indonesia, kami diminta menyiapkan karena kebutuhan kapal Indonesia ini sebenarnya besar sekali. Harapannya ke depan industri kapal kita tumbuh jadi kami, perguruan tinggi, diminta menyiapkan penguasaan teknologinya, riset-risetnya ke arah industri kapal kita,” kata Brian menjawab pertanyaan wartawan usai rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (28/7).

Brian menyampaikan bahwa Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek), perguruan tinggi dan guru besar bersama PT PAL Indonesia dapat memanfaatkan riset dan kajian untuk memajukan industri perkapalan di tanah air.

Langkah itu dilakukan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan kapal di dalam negeri dari produksi yang dilakukan secara mandiri di Indonesia, tetapi juga sekaligus mendukung upaya membuka lapangan pekerjaan.

Brian menjelaskan bahwa pengembangan industri kapal di dalam negeri menyasar kebutuhan masyarakat, termasuk untuk memenuhi kebutuhan akan kapal angkut penumpang serta barang atau logistik.

Pemenuhan itu penting mengingat banyak wilayah Indonesia yang terhubung satu dengan lainnya melalui jalur laut atau sungai. “Itu market yang sangat besar, mestinya industri kita tumbuh. Ini kita ingin agar penelitian-penelitian juga membantu PT PAL supaya industri sektor perkapalan kita bangkit,” jelas Brian. (Ant/E-2)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *