
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai implementasi program B50 akan membawa prospek cerah bagi hilirisasi sawit di Indonesia. Program ini diyakini mampu mendorong terciptanya produk turunan dengan nilai tambah tinggi yang melampaui sektor energi.
Esther menjelaskan bahwa kelapa sawit memiliki potensi pengembangan yang sangat luas, mencakup lebih dari 200 jenis produk turunan. Selain sebagai bahan baku energi, sawit dapat dioptimalkan untuk sektor farmasi dan pangan.
“Menurut saya prospek sawit sangat cerah apalagi produk turunan sawit lebih dari 200 jenis. Tidak hanya bisa diolah menjadi energi tapi juga farmasi, makanan, dan lain-lain,” ujar Esther saat dihubungi di Jakarta, Jumat (17/7).
Pentingnya Ekosistem dan Diferensiasi Produk
Meskipun peluang terbuka lebar, Esther menekankan bahwa penguatan hilirisasi harus dibarengi dengan pembangunan ekosistem industri yang kokoh. Hal ini diperlukan agar produk Indonesia memiliki daya saing kuat di pasar global.
Strategi pengembangan ekspor, menurutnya, perlu diarahkan pada diferensiasi produk. Indonesia diharapkan tidak lagi hanya mengandalkan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), melainkan mulai meningkatkan produksi barang jadi seperti sabun, deterjen, pelumas, hingga biodiesel.
“Indonesia punya peluang besar untuk terus menghilirisasikan sawit menjadi berbagai produk turunan. Tapi paling penting adalah membangun ekosistemnya,” tegasnya.
Selain itu, ia mengingatkan pelaku industri untuk patuh pada standar mutu dan regulasi perdagangan internasional, terutama terkait standar keamanan dan keberlanjutan untuk sektor kosmetik dan pangan di pasar tujuan.
- Proyeksi penghematan devisa negara sekitar Rp170 triliun sepanjang tahun 2026.
- Target penciptaan hingga 2,1 juta lapangan kerja baru.
- Penguatan kedaulatan energi nasional melalui komoditas domestik.
Kedaulatan Energi dan Penghematan Devisa
Sejalan dengan pandangan Indef, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa B50 memberikan manfaat ekonomi nyata. Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menjelaskan bahwa melalui formula B50, setengah dari setiap liter solar yang dikonsumsi masyarakat berasal dari hasil bumi petani lokal.
“Implementasi B50 diproyeksikan mampu menghemat devisa negara sekitar Rp170 triliun sepanjang tahun 2026. Penghematan itu modal penting untuk mendukung pembangunan dan memperkuat perekonomian nasional,” ungkap Dwi Anggia.
Transformasi ini menandai era kedaulatan energi nasional yang digerakkan langsung oleh komoditas dalam negeri, sekaligus memperkuat fundamental ekonomi Indonesia dalam menghadapi gejolak pasar global.
