
PEMERINTAH daerah mengeluhkan mahalnya pendanaan untuk membangun proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di tengah kondisi darurat sampah. Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengatakan, persoalan sampah menjadi isu yang langsung ditanganinya setelah menjabat.
Menurutnya, kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun di Kecamatan Medan Marelan sudah mengkhawatirkan karena kapasitasnya hampir penuh.
“Penanganan sampah begitu darurat. Begitu saya jadi wali kota, saya cari solusi tentang pengelolaan sampah,” ujar Rico dalam acara Waste to Energy Talks 2026 yang digelar Metro TV di Jakarta, Kamis (16/7).
Rico menjelaskan TPA Terjun yang memiliki luas sekitar 13,9 hektare diperkirakan akan mengalami kelebihan kapasitas dalam beberapa tahun ke depan apabila tidak segera ditangani.
“Di 2029, sampah di sini pasti akan overload,” katanya.
Untuk mencari solusi, Pemerintah Kota Medan mempelajari berbagai teknologi pengolahan sampah, termasuk refuse derived fuel (RDF). Namun, upaya tersebut terbentur besarnya kebutuhan investasi.
Menurut Rico, pembangunan fasilitas RDF dengan kapasitas beberapa ribu ton membutuhkan dana hingga Rp1,7 triliun.
“Mahal sekali ternyata. Ya kalau untuk berapa ribu ton itu bisa Rp1,5 triliun, hingga Rp1,7 triliun,” ujarnya.
Selain persoalan pendanaan, Rico mengatakan tantangan lain adalah mencari
kepastian pembeli hasil olahan sampah (off-taker) yang akan menyerap hasil produksi RDF.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Medan tetap menjadi salah satu kota yang dipilih untuk mengembangkan proyek PSEL. Rico mengatakan Pemerintah Kota Medan telah menyiapkan proyek tersebut sejak tahun lalu. Kota yang menghasilkan sekitar 1.400-1.500 ton sampah per hari itu juga telah menyediakan lahan seluas sekitar 6 hektare yang saat ini masih dalam tahap pematangan.
“Ini sudah kami persiapkan dari mulai tahun lalu,” kata Rico.
Ia berharap proses pematangan lahan dapat selesai pada akhir 2026 sehingga pembangunan fisik (groundbreaking) PSEL dapat dimulai pada kuartal I-2027.
Dalam kesempatan yang sama, Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan pengembangan PSEL merupakan salah satu upaya untuk menyelesaikan persoalan sampah melalui kolaborasi pemerintah dan sektor swasta.
Menurut dia, persoalan yang dihadapi daerah bukan hanya soal teknologi, tetapi juga skema pendanaan.
“Rupanya ada masalah pendanaan, dan masalah yang lain-lain,” ujar Pandu.
Ia menjelaskan penyelesaian masalah sampah harus diawali dengan pemilihan teknologi yang tepat. Setelah itu, pemerintah baru menyusun skema pembiayaan yang sesuai. Karena itu, pemerintah berupaya menyederhanakan mekanisme pendanaan melalui kebijakan yang lebih terpusat sehingga pemerintah daerah tidak lagi terbebani persoalan tipping fee. Salah satu opsi yang disiapkan ialah mengubah skema tersebut menjadi penyesuaian harga dalam power purchase agreement (PPA).
“Nah itu dicari bagaimana solusinya dari sisi bentuk tipping fee itu diubah kepada harga yang nanti dinaikkan jadi perubahan di harga PPA,” kata Pandu.
Pandu kemudian mengatakan minat investor terhadap proyek PSEL ternyata cukup tinggi. Pada tahap pertama yang mencakup tiga kota, Danantara menerima 21 peserta lelang yang kemudian disaring menjadi tiga pemenang.
Melihat tingginya minat tersebut, pada tahap kedua yang mencakup delapan kota, Danantara mengubah struktur investasinya dengan meningkatkan kepemilikan menjadi 51% sekaligus ikut menyediakan pendanaan bersama mitra.
Meski demikian, Pandu menegaskan seluruh peserta tetap diwajibkan memiliki kemampuan pembiayaan, rekam jejak teknologi yang telah terbukti, serta menggandeng mitra lokal mengingat karakteristik sampah di setiap daerah berbeda.
“Rupanya private sector sangat tertarik. Walaupun di situ ada peraturan,” ujar Pandu.
Ia menambahkan proses seleksi tahap kedua diikuti 85 peserta dari berbagai negara, termasuk Eropa, China, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Timur Tengah. Pemenangnya berasal dari Indonesia dan Prancis dengan membawa teknologi yang telah terbukti mampu diterapkan dalam proyek pengolahan sampah menjadi energi.
PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) menyatakan komitmennya untuk mendukung pengembangan proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Direktur Transformasi & Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono mengatakan perseroan menempatkan investasi PSEL sebagai bagian dari dual growth strategy.
Selain mempertahankan bisnis inti (legacy business) berupa penyaluran energi minyak dan gas kepada masyarakat, Pertamina juga terus mengembangkan bisnis berbasis lingkungan (environment) dan rendah karbon (low carbon).
Menurut Agung, strategi tersebut juga sejalan dengan dual track issue, yakni menyelesaikan persoalan ekonomi melalui solusi yang tetap memberikan nilai ekonomi. Salah satunya dengan mengolah sampah menjadi sumber energi yang bernilai tambah.
“Dengan menjadikan sampah ini sesuatu yang ekonomis,” katanya.
Sementara itu, Direktur Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero) Suroso Isnandar mengatakan terbitnya Perpres Nomor 109 Tahun 2025 memberikan kepastian bagi pengembangan proyek PSEL. Regulasi tersebut menetapkan PLN sebagai off-taker dengan tarif pembelian listrik sebesar 20 sen dolar AS per kWh selama 30 tahun.
Menurut Suroso, kepastian tersebut memberikan jaminan kepada investor dan mitra pengembang bahwa seluruh listrik yang dihasilkan dari proyek PSEL akan diserap oleh PLN.
“Sehingga PLN selaku off-taker dapat memberikan jaminan kepada para mitra bahwa listrik akan diambil 100 persen, berapapun produksinya,” kata Suroso.
Ia menambahkan, dukungan terhadap PSEL juga sejalan dengan agenda transisi energi PLN menuju target net zero emissions pada 2060. Selain menambah bauran energi bersih, proyek PSEL dinilai mampu memberikan solusi terhadap persoalan pengelolaan sampah di berbagai daerah.
Suroso menegaskan PLN siap memberikan kepastian jangka panjang bagi para pengembang, sebagaimana komitmen yang telah dijalankan pada berbagai proyek energi terbarukan lainnya melalui perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) berdurasi lebih dari 20 tahun.
“Jadi para mitra tidak perlu khawatir. Komitmen terhadap sektor-sektor pembangkit listrik yang lain sudah kami buktikan,” pungkasnya.(H-2)
