
Keberhasilan platform securities crowdfunding (SCF) kini dinilai tidak lagi hanya bergantung pada besarnya dana yang berhasil dihimpun atau banyaknya perusahaan penerbit yang bergabung. Seiring semakin matangnya industri, kepastian mekanisme exit bagi investor, termasuk melalui skema buyback atau pembelian kembali saham, mulai dipandang sebagai indikator penting dalam membangun kepercayaan sekaligus mengukur kualitas investasi jangka panjang.
Perkembangan tersebut berlangsung di tengah tren pertumbuhan industri SCF yang masih positif. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Juni 2026 industri ini mencatat tambahan enam penerbit baru dengan 22 efek yang diterbitkan. Kepala Eksekutif Pengawasan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fauzi menyebut penambahan tersebut menghasilkan penghimpunan dana sebesar Rp39,14 miliar, sehingga secara kumulatif dana yang berhasil dihimpun industri SCF telah mencapai Rp1,98 triliun.
Di tengah perkembangan tersebut, Indonesia Crowdfunding Exchange (ICX), yang sebelumnya dikenal sebagai LandX, menilai capaian penghimpunan dana dan pertumbuhan jumlah penerbit memang mencerminkan perkembangan industri. Namun, perusahaan berpandangan bahwa keberhasilan sebuah platform juga perlu diukur dari kemampuannya menghadirkan kepastian bagi investor untuk mengakhiri investasinya melalui mekanisme exit yang jelas, termasuk buyback.
Hingga pertengahan 2026, sejumlah perusahaan penerbit yang terdaftar di platform tersebut telah merealisasikan pembelian kembali saham dengan nilai kumulatif lebih dari Rp71 miliar. Proses tersebut telah mengembalikan hak investasi kepada 7.924 investor yang tersebar di berbagai daerah.
Direktur Utama Indonesia Crowdfunding Exchange, Romario Sumargo, mengatakan periode perlambatan yang dialami perusahaan sepanjang 2023 hingga 2026, ketika hanya mencatat satu penerbit baru, merupakan bagian dari strategi penyesuaian menghadapi dinamika industri.
“Di saat industri SCF memasuki era penegakan kepatuhan yang lebih ketat melalui fase penguatan integritas oleh regulator, langkah mitigasi yang telah kami lakukan sejak awal kini menjadi batu loncatan utama untuk berakselerasi,” ujar Romario, Selasa (14/7).
Menurutnya, strategi tersebut menjadi fondasi bagi perusahaan untuk memperluas pasar pada paruh kedua 2026. Dari total 46 perusahaan penerbit yang pernah memperoleh pendanaan melalui platform tersebut, sebanyak 16 perusahaan telah menuntaskan komitmen buyback maupun mekanisme exit investasi. Mayoritas berasal dari sektor makanan dan minuman (F&B) serta properti.
Keberhasilan pelaksanaan buyback tersebut dinilai didukung oleh penggunaan dana hasil pendanaan yang efektif, kondisi arus kas perusahaan yang sehat, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik. Secara keseluruhan, platform tersebut telah memfasilitasi penghimpunan dana sebesar Rp233 miliar dari sekitar 23 ribu investor yang disalurkan kepada 46 perusahaan penerbit.
Salah satu perusahaan penerbit, Fitness Plus, menyebut pendanaan melalui skema SCF berperan dalam mendorong ekspansi bisnis perusahaan.
“Seiring pertumbuhan bisnis yang kami capai, eksekusi buyback untuk tiga proyek sebesar Rp9,1 miliar menjadi bentuk komitmen dan apresiasi tertinggi kami kepada investor yang telah memberikan kepercayaan sejak awal,” ujar Dith Satyawan.
Selain itu, perusahaan lain yang bergerak di sektor layanan kesehatan dan dermatologi juga telah merealisasikan buyback senilai Rp10 miliar. Di sisi lain, platform tersebut mengungkapkan terdapat empat perusahaan penerbit yang mengalami stagnasi operasional dan menghadapi tantangan bisnis. Menindaklanjuti ketentuan OJK, satu perusahaan telah resmi berstatus delisting, sementara tiga perusahaan lainnya masih menjalani proses delisting sekaligus penyelesaian hak-hak investor sesuai ketentuan yang berlaku.
Ke depan, perusahaan memperkirakan industri securities crowdfunding akan terus berkembang seiring meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap karakteristik dan risiko investasi. Dalam kondisi tersebut, kepastian mekanisme exit, termasuk buyback, dipandang akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan tingkat kepercayaan investor terhadap platform.
“Pada akhirnya, keberhasilan sebuah platform tidak hanya diukur dari seberapa cepat dana dihimpun di awal. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perusahaan yang memperoleh pendanaan mampu bertumbuh, menciptakan nilai, dan menjaga kepercayaan investor dalam jangka panjang,” tutup Romario. (E-3)
