
Penerapan budidaya padi berbasis organik pada lahan berproduktifitas rendah di Kabupaten Subang menunjukkan hasil yang menjanjikan. Demplot yang sebelumnya hanya menghasilkan sekitar 1 ton gabah per hektare kini mampu mencatat produktivitas sekitar 4,76 ton per hektare setelah menerapkan teknologi pupuk hayati dan pembenah tanah organik.
Peningkatan tersebut diketahui berdasarkan hasil ubinan yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Subang bersama petani pada Jumat (10/7) di kawasan Lembur Pakuan, Desa Sukasari, Kecamatan Dawuan. Pengukuran dilakukan pada lahan percontohan seluas 1,12 hektare yang merupakan bekas kebun rambutan dan selama tiga musim tanam dikenal memiliki tingkat produktivitas yang rendah.
Tim ubinan dipimpin oleh Didit Hendrawan dari BPS Kabupaten Subang. Sehari sebelumnya, pengambilan sampel juga dilakukan oleh tim Dinas Pertanian Kabupaten Subang.
Kepala Desa Sukasari Olih Solihin mengatakan peningkatan hasil panen tersebut menjadi kabar baik bagi petani karena lahan tersebut selama ini tergolong sulit menghasilkan produksi yang optimal.
“Ini lahan baru bekas kebun rambutan yang dijadikan sawah. Sudah tiga kali tanam hasilnya hanya sekitar satu ton per hektare. Sekarang hasilnya lebih dari 4 ton per hektare. Tentu kami sangat bersyukur,” ujar Olih.
Menurut Olih, berbagai metode budidaya, baik menggunakan pupuk kimia maupun organik, sebelumnya telah dicoba tanpa mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.
“Rata-rata produksi di kawasan ini sekitar 3 ton per hektare. Yang menarik, lahan yang sebelumnya ekstrem kini mampu mencapai sekitar 4,7 ton per hektare,” jelasnya.
Demplot tersebut merupakan hasil kolaborasi Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani) bersama Pemerintah Desa Sukasari dengan dukungan PT Intani Bumi Lestari (IBL) dan PT Indoraya Mitra Persada 168 (IMP 168).
Ketua Intani Jawa Barat Riyan Sumindar mengatakan program tersebut bertujuan memperbaiki kondisi tanah yang mengalami penurunan kesuburan sekaligus meningkatkan efisiensi biaya budidaya.
“Tujuan kami bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperbaiki kesehatan tanah dan menekan biaya produksi petani. Dengan aplikasi Pureplant dan HumicGen, biaya budidaya menurut perhitungan kami bisa jauh lebih efisien dibandingkan pola konvensional,” ujarnya.
Ia menambahkan umur panen pada demplot tersebut juga relatif lebih singkat. Pengambilan sampel dilakukan saat tanaman berumur 86 hari setelah tanam, sementara panen dijadwalkan pada hari ke-88.
“Hasil panen nantinya diperkirakan tidak akan jauh berbeda dengan hasil ubinan. Bisa sedikit lebih tinggi atau sedikit lebih rendah,” katanya.
Riyan menjelaskan pupuk hayati yang digunakan dikembangkan dari mikroorganisme lokal Indonesia untuk membantu memulihkan kesuburan tanah secara berkelanjutan.
Sementara itu, Agronomis PT IMP 168 Rohman mengatakan teknologi budidaya tersebut dirancang agar mudah diterapkan petani. Pembenah tanah diaplikasikan saat pengolahan lahan sebelum tanam, sedangkan pupuk hayati disemprotkan secara bertahap pada umur tanaman 7, 14, 21, dan 30 hari setelah tanam.
“Prosedurnya sederhana. Pupuk cukup dicampur air lalu disemprotkan sesuai jadwal aplikasi sehingga mudah diterapkan oleh petani,” ucap Rohman.
Menurutnya, pupuk hayati tersebut mengandung berbagai mikroorganisme yang membantu proses biologis di dalam tanah, termasuk bakteri penambat nitrogen, pelarut fosfat dan kalium, mikroba dekomposer, serta zat pengatur tumbuh yang mendukung perkembangan tanaman.
Selain padi, teknologi tersebut disebut dapat diterapkan pada berbagai komoditas pangan, hortikultura, dan perkebunan. Program ini diharapkan menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendukung ketahanan pangan melalui sistem budidaya yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. (E-3)
