
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk sepekan ke depan berada di level US$64,70 per barel dan resistance di level US$72,10 per barel.
“Jadi, kemungkinan besar harga minyak mentah ini akan terus terkoreksi di bawah US$70 per barel, mendekati US$60 per barel,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (5/7).
Ia mengatakan pascaperjanjian nota kesepahaman antara Amerika dan Iran, kondisi Selat Hormuz semakin ramai. Bahkan saat ini terjadi oversupply dalam pengiriman minyak mentah tersebut.
Selain itu, kata Ibrahim, pasar pun sedang menunggu pertemuan antara pejabat Amerika dan Iran. Kedua pihak akan membahas Selat Hormuz dan pencabutan sanksi ekonomi yang mana Amerika akan mencairkan dana Iran yang sudah begitu lama dibekukan.
“Nah ini yang sedang ditunggu oleh pasar, Namun pasar optimistis bahwa Amerika dan Iran ada jeda waktu 60 hari untuk genjatan senjata dan kemungkinan besar akan dipermanenkan,” papar Ibrahim.
“Ini yang membuat transportasi di Selat Hormuz kembali lancar dan terjadi oversupply, membuat harga minyak dunia terus mengalami penurunan yang cukup signifikan,” jelasnya.
Saat ini lalu lintas kapal yang mengangkut minyak melawati Selat Hormuz disebut sudah melampaui 103,1 juta barel per hari. Menurut Ibrahim, kondisi teresebut memicu oversupply dan harga minyak mentah kembali mengalami penurunan. (E-3)
