UI Ajak Mahasiswa Internasional Edukasi Kesehatan Melalui Permainan Ular Tangga Berbahasa Sunda
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) menghadirkan inovasi edukasi kesehatan berbasis kearifan lokal melalui media permainan ular tangga berbahasa Sunda. Inovasi ini diterapkan dalam program pengabdian masyarakat bertajuk “Empowering Children’s Health Literacy in Indigenous Community” yang digelar di Kampung Parakanceuri, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Aksi kolaboratif yang berlangsung pada pertengahan Juni 2026 tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Klaster Riset Ethno-Nursing and Cultural Care FIK UI, Prof. Dr. Enie Novieastari, S.Kp., MSN. Uniknya, agenda ini turut melibatkan 15 mahasiswa internasional yang berasal dari sembilan negara, yakni Bangladesh, Pakistan, India, Thailand, Zimbabwe, Tanzania, Gambia, Nigeria, dan Timor-Leste.

Prof. Enie Novieastari menjelaskan bahwa penggunaan instrumen berbasis bahasa daerah merupakan bagian dari implementasi riil ilmu keperawatan transkultural (transcultural nursing).

“Pesan kesehatan akan lebih mudah diterima ketika disampaikan melalui media yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Permainan ular tangga berbahasa Sunda menjadi salah satu cara untuk mengintegrasikan promosi kesehatan dengan pelestarian budaya lokal,” ujar Prof. Enie dalam keterangan tertulisnya, Jumat (3/7/2026).

Metode PHBS Interaktif dan Pertukaran Komunikasi Global

Berbeda dengan sosialisasi klinis konvensional yang cenderung searah, papan permainan ular tangga ini dimodifikasi sedemikian rupa di mana setiap kotaknya memuat narasi instruktif menggunakan bahasa Sunda halus. Melalui metode bermain sambil belajar tersebut, anak-anak masyarakat adat Parakanceuri diajak untuk memahami serta mempraktikkan langsung beberapa poin krusial Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Materi edukasi yang diberikan mencakup praktik enam langkah cuci tangan yang higienis sesuai dengan standar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan World Health Organization (WHO), serta edukasi mengenai tata cara menyikat gigi yang benar secara periodik. Selain itu, anak-anak juga diajarkan teknik pemilahan jenis sampah organik dan anorganik sejak dini, yang kemudian diselingi dengan sesi interaktif pengenalan kosa kata bahasa Inggris dasar bersama para mahasiswa asing pendamping selama permainan berlangsung.

Mengenal Tradisi Agraris Lewat Live-In Budaya

Di samping melakukan misi pemulihan literasi kesehatan, para mahasiswa asing dari berbagai belahan dunia tersebut juga diberi kesempatan untuk melakukan pembauran budaya (cultural immersion) guna mengenal langsung denyut nadi kehidupan masyarakat agraris Sunda.

Para mahasiswa internasional diajak mengikuti serangkaian tradisi komunal, seperti ngagebyok (menangkap ikan di kolam secara tradisional tanpa alat), menikmati seni kuliner lokal, belajar instrumen musik tradisional, hingga mengikuti prosesi tutunggulan—yakni tradisi memukul lesung padi pascapanen yang sarat nilai historis.

Md. Sajib Raihan, mahasiswa internasional asal Bangladesh, mengaku bahwa pengalaman terjun langsung ke lapangan ini memberikan perspektif edukasi yang mendalam di luar ruang kuliah formal. “Selain mengajar, aktivitas menangkap ikan di kolam setempat, menikmati makanan tradisional yang lezat, dan menyelami kekayaan budaya Sunda lewat sejarah, tarian, lagu, serta alat musik tradisional mereka membuat saya merasa seperti di rumah sendiri. Sebagai mahasiswa internasional, pertukaran budaya yang autentik ini tidak hanya menyegarkan tetapi juga sangat mendidik,” kesannya.

Melalui program terpadu ini, FIK UI menegaskan komitmennya dalam mengembangkan model pendidikan keperawatan yang inklusif, humanis, dan berwawasan global, sekaligus membuktikan bahwa perlindungan eksistensi budaya daerah mampu menjadi katalisator yang efektif dalam mendongkrak derajat kesehatan masyarakat. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *