Jutaan Warga Iran Bersiap Lepas Ali Khamenei dalam Prosesi Pemakaman 6 Hari
Prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei diproyeksikan jadi ajang unjuk kekuatan melawan AS-Israel. Simak detail upacara akbarnya di sini.(AFP)

BLOKADE jalan, posko, dan konvoi militer mulai memadati Teheran seiring bersiapnya jutaan warga Iran menghadiri upacara pemakaman enam hari untuk Ali Khamenei. Pemimpin Tertinggi Iran yang menjabat selama 36 tahun tersebut tewas pada usia 86 tahun dalam serangan pembuka oleh Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu.

Prosesi ini dirancang sebagai simbol persatuan nasional dan perlawanan. Peti mati Khamenei ditampilkan pertama kali pada Kamis malam di hadapan keluarga korban perang, sebelum dipindahkan ke Masjid Agung Mosalla untuk disemayamkan selama tiga hari. Skala pemakaman ini diperkirakan akan dihadiri hingga 30 juta orang dan jenazahnya juga akan dibawa ke kota suci Syiah di Irak, Karbala dan Najaf.

Komandan Jenderal Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ahmad Vahidi, yang tampil pertama kali di publik sejak 8 Februari, menegaskan Iran tidak akan pernah menyerah.

“Beliau memiliki tempat di hati dan jiwa kami, dan bagi kita semua, bagi Iran yang kita cintai, dan bagi umat Islam, beliau adalah sosok yang permanen dan abadi, dan kami tidak akan pernah mengucapkan selamat tinggal kepadanya,” ujar Vahidi.

Suasana duka juga diwarnai kehadiran peti mati cucu perempuan Khamenei yang masih berusia 14 bulan, yang turut tewas dalam serangan yang sama. Meskipun dihadiri oleh sejumlah pemimpin senior dari Irak, Pakistan, Armenia, dan Tajikistan, tidak ada pemimpin Barat yang diundang dalam upacara ini.

Tantangan terbesar bagi penyelenggara adalah menjaga keamanan dari ancaman terorisme dan mengendalikan massa. Mengingat pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini (1989) dan Qassem Suleimani (2020) sebelumnya sempat diwarnai kekacauan akibat membludaknya pelayat.

Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, menyatakan upacara yang dimulai Sabtu di Teheran dan berakhir Kamis di Mashhad ini akan menjadi peristiwa terpenting abad ini. Nada retorika pembalasan pun disuarakan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.

“Kita harus bangkit dan menyampaikan seruan pertumpahan darah bangsa ini kepada dunia agar dunia tahu bahwa bangsa Iran yang terhormat dan mulia tidak akan tinggal diam menghadapi penindasan dan kesombongan, serta tidak akan menyia-nyiakan darah imamnya. Iran berdiri di ambang penciptaan salah satu pemandangan terbesar dalam sejarahnya,” tegas Ghalibaf.

Di balik kemegahan acara, suksesi kepemimpinan masih menyisakan tanda tanya. Putra sekaligus penerus Khamenei, Mojtaba Khamenei, diperkirakan absen karena mengalami luka parah akibat serangan yang sama. Absennya Mojtaba di tengah lonjakan inflasi domestik kini menjadi ujian berat bagi sistem politik Iran.

Rangkaian acara ini sengaja diselaraskan dengan bulan Muharram untuk merefleksikan simbol perlawanan kaum Syiah. Dalam pidato terakhirnya pada 17 Februari, Khamenei sempat menegaskan prinsipnya tersebut.

“Orang seperti saya tidak akan menyatakan kesetiaan kepada orang seperti Yazid. Bangsa dengan budaya seperti Iran tidak akan menyatakan kesetiaan kepada pemimpin korup seperti yang ada di Amerika.” (The Guardian/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *