
AKSI kekerasan kembali mengguncang pusat Kota Damaskus, Suriah. Sedikitnya sembilan orang dilaporkan tewas dan 20 lainnya mengalami luka-luka setelah sebuah bom meledak di sebuah kafe pada Kamis (2/7) waktu setempat.
Ledakan tersebut terjadi di kawasan strategis yang berdekatan dengan Gedung Istana Kehakiman, salah satu kompleks pemerintahan penting di ibu kota. Hingga saat ini, belum ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan mematikan tersebut.
Berdasarkan laporan media pemerintah Suriah, bahan peledak sengaja dipasang di dalam kafe. Kementerian Dalam Negeri mengungkapkan bahwa bom rakitan tersebut berisi serpihan logam, yang dirancang untuk menimbulkan dampak fatal bagi korban serta kerusakan material yang signifikan di sekitar lokasi kejadian.
| Kategori | Detail Informasi |
|---|---|
| Waktu Kejadian | Kamis, 2 Juli (Sekitar pukul 15.00) |
| Lokasi | Kafe di pusat Kota Damaskus (Dekat Istana Kehakiman) |
| Korban Tewas | Sedikitnya 9 orang |
| Korban Luka | 20 orang |
| Jenis Senjata | Bom rakitan berisi serpihan logam |
Kesaksian Warga di Lokasi
Kekuatan ledakan dirasakan langsung oleh warga sekitar. Nour Khayyat, seorang pemilik toko di dekat lokasi, menceritakan kengerian saat peristiwa terjadi sekitar pukul tiga sore.
“Saya mendengar ledakan yang sangat keras. Etalase toko saya sampai bergetar,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sesaat setelah ledakan, warga berhamburan menuju kafe untuk memberikan pertolongan sambil menghubungi layanan darurat.
Mohammed al-Dahabi, pemilik toko kacamata yang berada tepat di sebelah kafe, juga merasakan tekanan udara yang sangat kuat. “Seluruh bangunan berguncang. Saat saya berlari ke lokasi, banyak orang tergeletak dengan darah di mana-mana,” kenangnya.
Respons Pemerintah dan Dunia Internasional
Gubernur Damaskus, Maher Eldibi, segera meninjau lokasi dan memastikan tim penyelidik tengah bekerja mengumpulkan bukti forensik serta memeriksa rekaman kamera pengawas (CCTV). Eldibi menegaskan bahwa serangan ini merupakan upaya sistematis untuk mengacaukan stabilitas keamanan yang mulai membaik di bawah pemerintahan Presiden Ahmed al-Sharaa.
“Setiap kali negara mulai memasuki masa stabil, selalu ada pihak-pihak yang berusaha mengacaukannya,” tegas Eldibi.
Kecaman keras mengalir dari berbagai penjuru dunia:
- PBB: Wakil Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Claudio Cordone, menuntut agar pelaku segera diadili.
- Turki: Menyatakan dukungan penuh bagi pemerintahan Presiden Ahmed al-Sharaa dalam menjaga stabilitas.
- Negara Arab & Organisasi Regional: Irak, Yordania, Qatar, Mesir, Liga Arab, serta Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mengutuk keras aksi ini sebagai tindakan terorisme.
Sejak jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024, pemerintahan baru Suriah terus berupaya memulihkan kondisi negara. Meski demikian, tantangan keamanan tetap nyata. Sebelum insiden ini, serangan paling mematikan tercatat pada Juni 2025, ketika sebuah bom bunuh diri di sebuah gereja merenggut 25 nyawa. (AFP/Z-1)
