
TANAMAN nyamplung yang banyak tumbuh di kawasan pesisir Indonesia ternyata menyimpan potensi besar sebagai bahan baku energi terbarukan. Badan Riset dan Inovasi Nasional tengah mengembangkan tanaman bernama ilmiah Calophyllum inophyllum itu sebagai kandidat unggulan biofuel yang tidak bersaing dengan kebutuhan pangan.
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN Budi Leksono menjelaskan biji nyamplung mengandung minyak hingga 60 hingga 70 persen, menjadikannya salah satu tanaman hutan dengan produktivitas energi tertinggi di antara tanaman asli Indonesia.
“Minyak nyamplung berpotensi diolah menjadi biokerosin, biodiesel, hingga bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel yang saat ini menjadi kebutuhan penting dalam agenda transisi energi global. Produktivitas tanaman yang relatif tinggi menjadikan nyamplung sebagai salah satu kandidat unggulan tanaman energi berbasis tanaman hutan,” ujar Budi, Kamis (2/7).
Keunggulan lain nyamplung adalah kemampuannya tumbuh di lahan marginal dan lahan kritis yang tidak cocok untuk tanaman pangan. Hal ini membuka peluang ganda, yakni menghasilkan energi sekaligus merehabilitasi kawasan terdegradasi.
“Pengembangan nyamplung tidak hanya berorientasi pada produksi energi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi rehabilitasi lahan dan peningkatan nilai ekonomi kawasan. Selain itu, nyamplung berpotensi mendukung terwujudnya Net Zero Emission karena memiliki kemampuan menyerap karbon yang tinggi,” jelasnya.
BRIN juga mengembangkan pendekatan pemanfaatan terpadu yang menerapkan konsep ekonomi sirkular. Selain minyak biji yang diolah menjadi biofuel, residu padatnya berupa tempurung dan ampas biji dapat diolah menjadi pelet, biochar, arang aktif, dan pakan ternak berprotein tinggi. Sementara residu cair dari proses pembuatan biodiesel seperti resin dan gliserol bisa diolah menjadi bahan biofarmaka dan sabun.
Dari sisi sosial ekonomi, pengembangan nyamplung dinilai berpotensi menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat pesisir dan kawasan lahan kritis, mulai dari budidaya, pengumpulan buah, hingga pengolahan bahan baku sebagai bagian dari rantai pasok bioenergi domestik.
“Di tengah meningkatnya kebutuhan energi rendah emisi di berbagai negara, termasuk sektor penerbangan yang mulai mengadopsi bahan bakar berkelanjutan, Indonesia memiliki peluang untuk mengoptimalkan sumber daya hayati lokal sebagai bagian dari upaya mewujudkan ketahanan energi dan pembangunan berkelanjutan,” pungkas Budi.
