
Kemampuan mengingat, menjaga konsentrasi, dan memproses informasi merupakan bagian penting dari fungsi kognitif manusia. Sebuah penelitian berjudul Molecular Insights into the Benefits of Nicotine on Memory and Cognition menunjukkan bahwa nikotin berpotensi memengaruhi fungsi tersebut melalui sejumlah mekanisme biologis di otak. Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa nikotin tetap merupakan zat adiktif sehingga temuan tersebut perlu dipahami secara proporsional.
Penelitian yang dilakukan Ahmad Alhowail dari Department of Pharmacology and Toxicology, College of Pharmacy, Qassim University, Arab Saudi, mengungkapkan bahwa nikotin berpotensi membantu memperbaiki gangguan kognitif pada penderita Alzheimer, sekaligus mendukung pemulihan fungsi memori dan kemampuan motorik pada pasien Parkinson.
Menurut Ahmad, nikotin bekerja dengan memengaruhi sistem komunikasi antarsel saraf yang berperan dalam proses belajar, pembentukan memori, serta menjaga kesehatan neuron. Mekanisme tersebut dinilai dapat membantu mempertahankan fungsi kognitif pada sejumlah kondisi tertentu.
Selain berkaitan dengan penyakit neurodegeneratif, penelitian tersebut juga menemukan potensi nikotin dalam membantu mengatasi gangguan memori yang dipicu hipotiroidisme, kurang tidur, maupun stres kronis. Pada individu sehat, nikotin disebut memiliki potensi mendukung proses pembentukan memori dan meningkatkan kemampuan otak menyimpan informasi melalui aktivitas biologis yang melibatkan sel-sel saraf.
“Meskipun nikotin memiliki karakteristik yang berpotensi menyebabkan ketergantungan apabila digunakan dengan cara dan dosis yang tidak tepat, nikotin juga memiliki sejumlah manfaat, termasuk meningkatkan fungsi kognitif pada individu sehat serta membantu memulihkan fungsi memori pada pasien dengan penyakit seperti Alzheimer, Parkinson, dan hipotiroidisme,” ujar Ahmad, dikutip Selasa (30/6).
Menanggapi hasil penelitian tersebut, Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (Akvindo), Paido Siahaan, menilai temuan ilmiah mengenai nikotin perlu ditempatkan dalam konteks yang utuh dan berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia. Menurutnya, masyarakat berhak mengetahui perkembangan penelitian mengenai nikotin, namun informasi tersebut tidak boleh dipahami secara keliru sebagai pembenaran untuk menggunakan produk yang mengandung nikotin tanpa mempertimbangkan risikonya.
“Kami melihat hasil riset mengenai potensi manfaat nikotin terhadap fungsi kognitif dan memori sebagai bagian dari diskusi ilmiah yang sah, tetapi harus dibaca secara hati-hati dan tidak dilebih-lebihkan,” kata Paido.
Ia menegaskan bahwa produk yang mengandung nikotin, termasuk berbagai produk tembakau alternatif, hanya diperuntukkan bagi konsumen dewasa, khususnya perokok yang ingin beralih dari rokok konvensional. Produk tersebut tidak ditujukan bagi nonperokok, remaja, maupun kelompok rentan.
Paido juga mengingatkan bahwa berhenti merokok tetap menjadi pilihan terbaik bagi kesehatan. Karena itu, ia mendorong peningkatan literasi masyarakat agar mampu memahami manfaat maupun risiko nikotin secara seimbang berdasarkan bukti ilmiah.
“Potensi manfaat nikotin dalam studi ilmiah tidak boleh dijadikan alasan untuk konsumsi sembarangan. Yang kami dorong adalah literasi risiko. Nikotin tetap memiliki risiko sehingga penggunaannya harus dipahami secara proporsional, terutama ketika dibandingkan dengan rokok bakar,” tutupnya. (E-3)
