
SEPAK bola terkadang bisa menjadi olahraga yang sangat kejam. Kalimat itu pantas menggambarkan nasib tragis tim nasional Senegal di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Sempat berada di atas angin dan bersiap merayakan tiket babak 16 besar, mimpi Singa Teranga runtuh seketika akibat comeback gila Belgia yang diwarnai drama VAR berdurasi panjang.
Senegal sejatinya tampil superior dan mendominasi laga hingga menit ke-80. Lewat gol Habib Diarra dan Ismaila Sarr, anak asuh Pape Thiaw sudah memimpin nyaman 2-0. Namun, keunggulan tersebut sirna dalam waktu empat menit jelang bubar.
Masuknya Romelu Lukaku membalikkan momentum. Bomber veteran itu memperkecil ketertinggalan pada menit ke-86. Hanya berselang tiga menit, kapten Youri Tielemans sukses menyamakan kedudukan menjadi 2-2 lewat sundulan maut, memaksa laga berlanjut ke babak perpanjangan waktu.
Patah Hati Senegal
Puncak drama terjadi di akhir babak perpanjangan waktu kedua. Wasit Saíd Martínez menghadiahi Belgia penalti kontroversial setelah meninjau monitor VAR selama lebih dari tujuh menit. Ganjalan minor dari Lamine Camara kepada Tielemans dianggap sebagai sebuah pelanggaran berat.
Tielemans yang maju sebagai eksekutor dengan dingin menyarangkan bola pada menit ke-124 lebih 44 detik—menjadikannya gol paling larut sepanjang sejarah Piala Dunia. Belgia menang 3-2, dan Senegal harus pulang dengan dada sesak.
“Penalti itu sangat kejam dan wasit berdiri terlalu lama di depan layar monitor. Keputusan tersebut penuh keraguan,” kritik mantan kapten Manchester United, Roy Keane.
Bagi pelatih Senegal, Pape Thiaw, tragedi ini mengulang luka lama awal tahun ini ketika gelar Piala Afrika (AFCON) mereka dicabut akibat aksi protes mogok massal saat melawan Maroko yang juga dipicu oleh keputusan VAR.
Sisa-Sisa Generasi Emas Setan Merah Belum Habis
Di sisi lain, kemenangan dramatis ini melahirkan rekor bersejarah bagi Belgia. Skuad asuhan Rudi Garcia menjadi tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang berhasil lolos dari kekalahan setelah tertinggal dua gol di atas menit ke-85 waktu normal.
Menariknya, aktor utama dari kebangkitan ini adalah para sisa-sisa punggawa uzur “Generasi Emas” 2018:
- Romelu Lukaku: Masuk sebagai pemain pengganti, mencetak gol pertama, dan menjadi penengah saat Youri Tielemans dan Leandro Trossard sempat terlibat adu mulut hebat di pinggir lapangan.
- Thomas Meunier: Menjadi kreator dengan assist matang untuk gol Lukaku.
- Youri Tielemans: Mengemas dua gol penyeimbang sekaligus penentu kemenangan sejarah.
Meski internal tim sempat memanas dan diwarnai ketegangan taktis, ketangguhan mental para veteran ini terbukti ampuh meloloskan Setan Merah ke babak 16 besar untuk menantang tuan rumah, Amerika Serikat.
(BBC/P-4)
