
MENGHADAPI fenomena El Nino, cuaca di kawasan Provinsi Aceh, sekarang sedang terjadi musim pancaroba. Suhu udara yang tergolong panas mencapai 34 derajat celcius, ternyata masih diselingi hujan ringan.
Hal itu diduga bagian dari proses perubahan cuaca dari musim basah (La Nina) ke musim kering (El Nino). Terkadang diwaktu siang diterpa panas matahari, lalu saat sore atau malam tiba sudah diguyur hujan ringan.
“Ini adalah tergolong dari proses perubahan musim. Lalu bisa juga pergeseran fenomena El Nino dari yang kita predisi terjadi bulan ini, ternyata bergeser Agustus dan September,” kata Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) Profesor Sugianto, kepada Media Indonesia, Kamis (2/7).
Guru Besar Pakar Pemanfaatan Teknologi Geospasial (remote sensing) untuk pemetaan lahan, kesuburan dan analisis lingkungan itu menjelaskan, menghadapi fenomena El Nino, pemerintah harus mewaspadai ancaman kekeringan atau krisis air. Misalnya untuk lahan pertanian padi sawah perluenyiapkan pompanisasi.
Lalu menjaga kelanjutan atau ketersediaan sumber air yang memadai untuk kebutuhan lahan sawah. Diantaranya merawat dan mempersiapkan debit air embung.
“Petani juga harus menjaga kelestarian sumber air dan tidak boros menggunakan air. Lalu sumber debit pendukung ketersediaan air untuk memperlambat kekeringan juga harus dipelihara bersama. Baik itu di kawasan irigasi atau dilokasi lain seperti rawa kecil di sekitar lahan pertanian,” tutur Prof Sugianto.
Amatan Media Indonesia, sejak awal bulan Juni, suhu cuaca di Aceh sering panca roba atau tidak stabil. Pada siang hari sering diterpa suhu panas.
Lalu sesekali terjadi hujan ringan dan sedang. Lebih parah lagi akibat kondisi demikian sebagian warga mengaku terserang panas dema dan pilek.
Adapun kondisi debit air sungai andalan sumber pengairan irigasi teknis dalam tiga pekan terakhir terus menyusut. Di kabupaten Pidie misalnya, debit air Sungai Krueng Baro, Sungai Krueng Tiro dan Sungai Krueng Reubee semakin berkurang. (MR)
