Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Percepatan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Diskusi Circular Economy in Action: Sinergi Kemitraan Multisektoral dalam Akselerasi Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan yang diselenggarakan PT Heinz ABC Indonesia dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Dunia 2026, di Jakarta, Selasa (30/6/2026(Dok ABC Indonesia)

PENGURANGAN sampah di Indonesia dinilai membutuhkan kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, industri, organisasi pengelola sampah, komunitas, hingga masyarakat. Tanpa sinergi lintas sektor, penerapan ekonomi sirkular dan target pengurangan sampah nasional akan sulit tercapai.

Pandangan tersebut mengemuka dalam diskusi Circular Economy in Action: Sinergi Kemitraan Multisektoral dalam Akselerasi Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan yang diselenggarakan PT Heinz ABC Indonesia dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Dunia 2026, di Jakarta, Selasa (30/6).

General Counsel and Head of Corporate Affairs PT Heinz ABC Indonesia Mira Buanawati mengatakan pengelolaan sampah yang berkelanjutan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci untuk membangun sistem yang mampu mengembalikan lebih banyak kemasan pascakonsumsi ke rantai daur ulang.

“ABC Indonesia mendukung agenda nasional dalam implementasi Extended Producer Responsibility (EPR) dan ekonomi sirkular di Indonesia. Salah satunya melalui kemitraan dengan Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) sebagai platform kolaborasi produsen dalam pengelolaan kemasan pascakonsumsi. Kami percaya bahwa pengelolaan sampah yang berkelanjutan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi lintas sektor untuk membangun sistem yang mampu mendorong lebih banyak material kembali ke rantai daur ulang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi lingkungan,” ujar Mira.

Menurut Mira, ekonomi sirkular merupakan pendekatan yang mendorong material tetap berada dalam siklus penggunaan selama mungkin melalui pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang. Dalam praktiknya, konsep tersebut dapat dimulai dari aktivitas sederhana, seperti memilah sampah dari rumah dan menyalurkan kemasan bekas ke bank sampah atau jalur pengumpulan yang tepat agar dapat diolah kembali menjadi bahan baku maupun produk baru.

Komitmen tersebut, lanjut dia, sejalan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen yang mendorong pelaku usaha menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R) melalui skema Extended Producer Responsibility (EPR).

Direktur Ekonomi Sirkular dan Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup Agus Rusly mengatakan pemerintah terus mendorong transformasi pengelolaan sampah dari sistem linear menuju ekonomi sirkular yang memandang sampah sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai ekonomi.

“Implementasi EPR menjadi instrumen penting untuk memastikan produsen turut bertanggung jawab terhadap kemasan pascakonsumsi yang mereka hasilkan. Keberhasilan agenda ini membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, industri, pelaku pengelolaan sampah, dan masyarakat agar target pengurangan sampah nasional dapat tercapai secara efektif dan berkelanjutan,” katanya.

Dalam implementasinya, Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) berperan sebagai organisasi nirlaba yang dibentuk produsen untuk mendukung pengelolaan kemasan pascakonsumsi melalui sistem pengumpulan terpilah dan pemulihan kemasan agar dapat kembali masuk ke rantai daur ulang.

General Manager IPRO Reza Andreanto mengatakan kemasan tidak berhenti perjalanannya setelah digunakan oleh konsumen. Melalui kolaborasi berbagai pihak, semakin banyak kemasan yang berhasil dipulihkan sehingga mengurangi kebocoran sampah ke lingkungan maupun tempat pembuangan akhir.

“Semakin banyak kemasan yang berhasil dipulihkan, semakin berkurang pula beban kebocoran pengelolaan sampah yang terjadi pada lingkungan dan tempat pembuangan akhir,” ujarnya.

Sementara itu, Founder Kita Olah Indonesia Andriansyah menilai pengelolaan sampah yang efektif juga mampu menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Menurut dia, kegiatan collection for recycling bukan hanya bertujuan mengumpulkan material yang dapat didaur ulang, tetapi juga membuka peluang usaha bagi komunitas pengelola sampah, pengepul, hingga mitra daur ulang.

Diskusi juga menyoroti pentingnya partisipasi masyarakat dalam mendukung ekonomi sirkular. Langkah sederhana seperti memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan material yang tidak diperlukan, serta memastikan kemasan yang dapat didaur ulang masuk ke saluran pengumpulan yang tepat dinilai dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, industri, organisasi pengelola sampah, komunitas, dan masyarakat, ABC Indonesia berharap semakin banyak kemasan pascakonsumsi yang dapat kembali menjadi bagian dari siklus ekonomi. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya mendukung lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga membangun sistem pengelolaan sumber daya yang lebih efisien dan berkelanjutan. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *