
LEGENDA Timnas Jerman, Toni Kroos, melontarkan kritik terhadap performa Die Mannschaft meski berhasil lolos sebagai juara Grup E Piala Dunia 2026. Menurutnya, tim asuhan Julian Nagelsmann berpotensi tersingkir lebih awal jika tidak segera membenahi pertahanan dan mengembalikan performa para pemain kunci.
Jerman menutup fase grup di puncak klasemen setelah meraih kemenangan telak 7-1 atas Curacao dan menang 2-1 atas Pantai Gading. Namun, hasil tersebut ternoda oleh kekalahan 1-2 dari Ekuador pada laga terakhir, meski sempat unggul lebih dahulu melalui gol Leroy Sane.
Pada pertandingan tersebut, Nagelsmann menurunkan susunan pemain inti tertua Jerman di Piala Dunia sejak 1998. Penampilan yang dinilai kurang meyakinkan memicu kritik dari berbagai kalangan, termasuk mantan pemain tim nasional.
Sorotan juga tertuju kepada dua gelandang kreatif Jerman, Jamal Musiala dan Florian Wirtz. Keduanya datang ke turnamen dengan ekspektasi tinggi, tetapi kesulitan menunjukkan permainan terbaik saat menghadapi tekanan fisik yang diterapkan Ekuador.
Dalam siaran langsung TikTok bersama Lukas Podolski, Kroos mengaku tidak sepenuhnya sependapat dengan pernyataan Nagelsmann yang menilai para pemainnya tetap memiliki semangat juang tinggi meski sudah memastikan tiket ke babak gugur.
“Bermain melawan kami haruslah menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan, artinya kami harus mampu bertahan dengan baik dan bermain dengan gigih. Kami belum melakukannya. Dan kami membutuhkan (Jamal) Musiala serta (Florian) Wirtz dalam performa terbaiknya, yang saat ini belum kami miliki,” kata Kroos.
Ia menilai Jerman akan kesulitan melangkah jauh apabila dua persoalan tersebut tidak segera diperbaiki.
“Jika kedua hal ini tidak berubah, kami tidak akan bertahan lama. Dulu kami juga pernah menjalani pertandingan di mana kami bermain buruk, seperti saat melawan Aljazair. Namun, kami tetap mampu memenangkan pertandingan-pertandingan buruk itu. Saya rasa tim saat ini tidak memiliki kemampuan itu,” tambahnya.
Kroos juga menyinggung kemungkinan adanya rasa puas diri setelah Jerman memastikan kelolosan ke fase gugur. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan hal yang wajar dan tidak bisa diabaikan.
“Ini adalah tim yang memberikan segalanya. Namun, saya tidak setuju dengan pernyataan pelatih bahwa (rasa puas diri) sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal ini. Hal itu selalu ada di benak Anda ketika Anda sudah lolos. Anda tidak bisa begitu saja mengabaikannya; itu wajar sebagai manusia. Kami memang bukan tim yang kuat secara fisik,” lanjutnya.
Sementara itu, Lukas Podolski memandang kekalahan dari Ekuador justru dapat menjadi pelajaran berharga bagi skuad Jerman sebelum memasuki fase gugur.
“Mungkin kekalahan seperti ini justru hal yang baik. Seperti mendapat tamparan di wajah. Sehingga semua orang berkata, baiklah, mari kita tenang sekarang. Mungkin kekalahan seperti ini ada manfaatnya, sehingga semua orang mengambil waktu sejenak untuk merenung di kamar masing-masing. Kita tidak boleh hanya meremehkan segalanya sekarang. Ayo dukung para pemain,” paparnya.
Meski melontarkan kritik, Kroos tetap percaya Jerman memiliki kualitas untuk bersaing dengan tim-tim terbaik apabila mampu menemukan kembali performa terbaiknya.
“Dan saya tetap pada pernyataan itu, saya yakin bahwa jika sampai harus bertanding melawan Prancis, dan jika semuanya berjalan lancar, kita bisa mengalahkan mereka,” ucapnya.
Menghadapi Paraguay pada babak 32 besar, Nagelsmann diperkirakan tetap mempertahankan duet Jamal Musiala dan Florian Wirtz di lini serang. Jerman membutuhkan penampilan yang lebih solid, terutama di sektor pertahanan dan kreativitas permainan, untuk mengatasi perlawanan Paraguay.
Apabila berhasil lolos ke babak 16 besar, Die Mannschaft berpotensi menghadapi Prancis, salah satu favorit juara Piala Dunia 2026. Karena itu, Jerman dituntut segera bangkit agar tidak mengakhiri perjalanan mereka lebih cepat dari yang diharapkan. (Goal/fer)
