Bahaya Mengorek Hidung: Risiko Infeksi Bakteri hingga Mimisan
Ilustrasi.(Magnific)

MENGOREK hidung atau yang sering disebut ngupil merupakan kebiasaan yang cukup umum dilakukan tanpa disadari. Sebagian orang melakukannya ketika hidung terasa gatal, terdapat lendir yang mengering, atau sekadar karena sudah menjadi kebiasaan. Meski terlihat sepele, terlalu sering mengorek hidung dapat menimbulkan sejumlah masalah kesehatan, terutama apabila dilakukan menggunakan kuku atau tangan yang tidak bersih.

Bagian dalam hidung dilapisi oleh jaringan mukosa yang berfungsi menangkap partikel asing sebagai bagian dari sistem pertahanan tubuh. Ketika jaringan tersebut sering disentuh atau tergores, lapisan pelindungnya dapat mengalami iritasi dan luka serius.

Risiko Mimisan dan Luka Mukosa

Salah satu risiko utama yang muncul adalah mimisan. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa kebiasaan mengorek hidung dapat melukai mukosa hidung, terutama jika dilakukan dengan kuku yang panjang atau tajam. Luka tersebut memicu perdarahan dari pembuluh darah halus di dalam rongga hidung.

Selain luka fisik, kebiasaan ini berkaitan erat dengan keberadaan bakteri di dalam hidung. Sebuah penelitian dalam jurnal Infection Control & Hospital Epidemiology meneliti hubungan antara kebiasaan mengorek hidung dengan keberadaan bakteri Staphylococcus aureus.

Hasil penelitian menunjukkan:

  • Pada pasien klinik THT, S. aureus ditemukan pada 53,6% orang yang gemar mengorek hidung, dibandingkan hanya 35,5% pada kelompok yang tidak melakukannya.
  • Pada relawan sehat, frekuensi mengorek hidung berkorelasi langsung dengan jumlah koloni bakteri yang ditemukan.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), bakteri ini sebenarnya ditemukan pada kulit dan hidung sekitar 30% populasi manusia. Meski umumnya tidak berbahaya, dalam kondisi tertentu bakteri ini dapat memicu infeksi serius jika masuk melalui luka di jaringan hidung.

Potensi Penularan Virus

Risiko lain yang diteliti adalah penularan virus. Studi terhadap tenaga kesehatan di Belanda pada tahun 2020 menemukan adanya hubungan antara kebiasaan mengorek hidung dengan kejadian infeksi SARS-CoV-2. Peneliti menemukan tingkat infeksi yang lebih tinggi pada kelompok yang sering mengorek hidung, meskipun studi ini bersifat observasional yang menunjukkan korelasi, bukan sebab-akibat langsung.

Bahaya Agresi pada Jaringan Hidung

Kebiasaan yang dilakukan terlalu agresif dapat menyebabkan luka kecil yang berujung pada abses septum hidung. Jika luka mengalami infeksi sekunder, kondisi ini memerlukan penanganan medis intensif. Penelitian mengenai abses septum pada orang dewasa sering kali menempatkan kebiasaan mengorek hidung sebagai salah satu faktor pemicu utama.

Tips Mengurangi Risiko:

  • Jaga kebersihan tangan secara rutin.
  • Gunakan pembersih hidung yang lembut atau nasal spray jika hidung terasa kering.
  • Hindari memasukkan kuku tajam ke dalam rongga hidung.
  • Jaga kelembapan udara di ruangan untuk mengurangi pembentukan lendir kering.

Kapan Harus ke Dokter?

Mengorek hidung sesekali memang tidak selalu berbahaya. Namun, Anda perlu waspada dan segera melakukan pemeriksaan medis jika mengalami gejala berikut:

  • Mimisan yang terjadi berulang kali.
  • Luka di dalam hidung yang tidak kunjung sembuh.
  • Muncul nyeri hebat, pembengkakan, atau nanah.
  • Tanda-tanda infeksi sistemik lainnya.

Dengan menjaga kebersihan tangan dan menghindari manipulasi berlebihan pada rongga hidung, risiko iritasi maupun infeksi jaringan dapat diminimalkan secara efektif. (CDC/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *