Kisah Lumumba Vea, Patung Hidup Suporter RD Kongo di Piala Dunia 2026
Michel Nkuka Mboladinga akhirnya menyaksikan RD Kongo di Piala Dunia 2026.(Dok. Nord24)

SUPORTER fanatik Republik Demokratik (RD) Kongo, Michel Nkuka Mboladinga, akhirnya mewujudkan impiannya hadir langsung di Piala Dunia 2026 saat timnya menghadapi Kolombia di Stadion Akron, Guadalajara, Meksiko. Pria 49 tahun yang dikenal sebagai “Lumumba Vea” itu sebelumnya absen pada laga pembuka melawan Portugal karena tertahan prosedur karantina Ebola.

Mboladinga, yang dijuluki “patung hidup“, mencuri perhatian sejak satu jam sebelum kick off. Ia sudah berada di tribun dengan setelan mencolok, jas merah menyala, dasi, kemeja kuning, dan celana biru yang melambangkan warna bendera negaranya.

Ketika pertandingan dimulai, ia menjalankan aksi khasnya. Berdiri di atas podium di belakang bangku cadangan RD Kongo, Mboladinga mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi tanpa bergerak, meniru pose patung Patrice Lumumba di Kinshasa.

Untuk melakukan aksi itu, Mboladinga mengaku berlatih menjaga tangannya tetap terangkat selama 50 menit dalam satu sesi. Ia juga menyiapkan mental agar tidak terdistraksi oleh riuhnya atmosfer pertandingan.

Meski menolak diwawancarai secara resmi, Mboladinga tampak mengangguk dan tersenyum saat ditanya mengenai kebahagiaannya bisa hadir di Piala Dunia. Kehadirannya menjadi penanda akhir dari perjalanan panjang yang tidak mudah.

Sebelumnya, Mboladinga sempat viral saat Piala Afrika 2025. Namun, ia harus melewatkan laga playoff melawan Jamaika akibat persoalan visa, ketika RD Kongo merayakan keberhasilan kembali ke putaran final Piala Dunia setelah penantian 52 tahun.

Ia bahkan sempat terbang ke Kenya dan Etiopia untuk mengurus dokumen perjalanan menuju pertandingan di Guadalajara. Penantian itu akhirnya tuntas menjelang laga kedua RD Kongo melawan Kolombia.

Bagi Mboladinga, penampilannya bukan sekadar atraksi tribun. Aksi teatrikal tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada Patrice Lumumba, tokoh penting kemerdekaan Kongo yang berperan mengakhiri kolonialisme Belgia pada 1960 dan menjadi perdana menteri pertama negara itu.

Lumumba dikenal sebagai salah satu pemimpin paling menjanjikan di Afrika sebelum dibunuh kurang dari setahun setelah menjabat, di tengah konflik dengan gerakan separatis di Katanga yang kaya mineral dan mendapat dukungan Belgia.

Kisah Lumumba kembali menjadi sorotan setelah pengadilan Belgia pada Maret lalu memerintahkan mantan diplomat berusia 93 tahun, Etienne Davignon, diadili atas dugaan keterlibatan dalam “kejahatan perang” terkait “penahanan dan pemindahan secara ilegal” terhadap Lumumba. Davignon membantah tuduhan itu.

Di balik penampilan kaku bak patung, Mboladinga tetap seorang suporter yang penuh emosi. Ia pernah menangis tersedu saat RD Kongo tersingkir dari Piala Afrika 2025 setelah kalah 0-1 dari Aljazair pada babak 16 besar melalui perpanjangan waktu.

Kini, kehadiran “Lumumba Vea” di Piala Dunia 2026 menjadi simbol semangat baru bagi Les Leopards dalam perjalanan mereka di turnamen terbesar dunia. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *