Ini Faktor-Faktor Pemicu Perilaku Kasar dan Kekerasan Menurut Psikolog
Para ibu melakukan kampanye anti-kekerasan terhadap perempuan dan rumah tangga.(Dok. MI/Usman Iskandar)

PSIKOLOG Samanta Clara Elsener, menyampaikan bahwa latar belakang keluarga, pola asuh, pengalaman masa kecil, dan lingkungan sosial termasuk faktor yang dapat memicu munculnya perilaku kekerasan pada seseorang.

Samanta, yang juga pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), mengatakan dalam psikologi dikenal istilah siklus kekerasan. Siklus ini dapat terbentuk ketika seseorang sejak kecil terbiasa melihat atau mengalami kekerasan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Menurut dia, anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh kasar bisa menganggap tindakan seperti memukul, memaki, atau mengurung sebagai bentuk disiplin maupun cara yang dapat diterima untuk mengendalikan orang lain.

“Jika sejak kecil seorang anak dibesarkan dalam lingkungan yang menganggap pukulan, makian, dan kurungan adalah cara menyelesaikan masalah atau bentuk disiplin, otak mereka akan mencatat bahwa kekerasan itu wajar dilakukan ketika sedang marah atau ingin mengatur orang,” kata Samanta saat dihubungi ANTARA, Rabu (24/6).

Pola Asuh Kasar dan Siklus Kekerasan

Samanta menjelaskan, pola asuh yang keras dapat membentuk cara pandang anak terhadap relasi kuasa, disiplin, dan penyelesaian konflik. Ketika kekerasan dipahami sebagai hal yang normal, anak berisiko membawa pola tersebut hingga dewasa.

Dalam konteks ini, kekerasan tidak hanya berupa tindakan fisik, tetapi juga dapat berbentuk makian, ancaman, pengurungan, atau tindakan lain yang bertujuan menekan dan mengendalikan orang lain.

Pengalaman yang berulang dapat membuat seseorang kesulitan membedakan antara disiplin, kontrol, dan kekerasan. Karena itu, pola asuh yang penuh kekerasan dapat menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan perilaku agresif.

Trauma Masa Kecil Dapat Mempengaruhi Emosi saat Dewasa

Selain pola asuh, pengalaman masa kecil yang buruk juga dapat mempengaruhi perkembangan emosi seseorang hingga dewasa. Anak yang mengalami atau menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga berpeluang mengalami gangguan perkembangan emosional apabila tidak mendapatkan penanganan yang memadai.

“Ketika dewasa, beberapa orang yang tidak mendapatkan pemulihan trauma akan mengubah peran mereka, dari yang dulunya korban menjadi pelaku agar mereka tidak merasa lemah lagi,” ujar Samanta.

Meski demikian, Samanta menegaskan bahwa pengalaman buruk pada masa kecil tidak otomatis membuat seseorang menjadi pelaku kekerasan. Banyak individu yang pernah mengalami masa kecil sulit tetap dapat memutus siklus kekerasan.

Menurut dia, dukungan sosial, pendidikan, serta bantuan profesional dapat membantu seseorang memahami trauma, mengelola emosi, dan membangun pola relasi yang lebih sehat.

Lingkungan Sosial Toksik Ikut Berperan

Faktor lain yang turut berperan dalam pembentukan perilaku seseorang ialah kondisi lingkungan sosial. Lingkungan yang membiarkan perilaku agresif, minim edukasi emosi, atau menormalisasi kekerasan dapat memperkuat kecenderungan seseorang untuk bertindak kasar.

“Lingkungan sosial yang toksik, minim edukasi emosi, atau bahkan menoleransi perilaku agresif juga menyuburkan bakat kekerasan dalam diri seseorang,” kata Samanta.

Karena itu, pencegahan kekerasan tidak cukup hanya dilakukan pada tingkat individu. Keluarga, sekolah, komunitas, dan lingkungan sosial juga perlu membangun budaya yang tidak menoleransi tindakan agresif maupun kekerasan.

Dukungan dan Penanganan Profesional Penting

Samanta menekankan pentingnya dukungan sosial dan bantuan profesional untuk membantu seseorang memutus rantai kekerasan. Pemulihan trauma, pendidikan emosi, serta lingkungan yang aman dapat menjadi faktor pelindung agar pengalaman buruk tidak berkembang menjadi perilaku menyakiti orang lain.

Kasus kekerasan dalam relasi juga kembali menjadi perhatian setelah seorang perempuan berusia 29 tahun asal Kabupaten Bandung dilaporkan menjadi korban penyekapan dan penganiayaan selama tiga tahun.

Perempuan yang disebut hilang kontak dengan keluarga sejak 2023 itu ditemukan dalam kondisi kritis di rumah sakit. Ia diduga disekap dan dianiaya oleh kekasihnya selama tiga tahun.

Kepada ayahnya, korban mengaku mengalami penganiayaan yang sangat kejam. Selama kurun waktu tersebut, pelaku disebut kerap memindahkan korban dari satu tempat kos ke tempat kos lain di daerah Cileunyi, Kabupaten Bandung, untuk menghindari kecurigaan warga sekitar.

Peristiwa tersebut menunjukkan pentingnya kewaspadaan lingkungan sekitar terhadap tanda-tanda kekerasan, terutama ketika seseorang tampak terisolasi, sulit dihubungi keluarga, atau berada dalam relasi yang penuh kontrol dan ancaman.

Menurut Samanta, kekerasan dapat dipicu oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Namun, siklus tersebut tetap bisa diputus melalui pemahaman, dukungan, pendidikan, dan penanganan yang tepat. (Ant/H-3)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *