Indonesia Dorong Pasar Karbon Berintegritas dan Perkuat Pusat Gambut serta Mangrove Dunia
Ilustrasi(Magnific.com)

INDONESIA memperkuat posisinya sebagai salah satu pemimpin global di bidang kehutanan dan aksi iklim dengan mendorong pengembangan pasar karbon berintegritas tinggi, penguatan pusat gambut tropis internasional, serta pengembangan pusat mangrove dunia dalam forum Forest and Climate Leaders’ Partnership (FCLP) di London, Inggris.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan komitmen tersebut dalam acara tingkat menteri bertajuk “From Glasgow to Addis Ababa: Building Momentum on Forests from COP30 to COP32” yang digelar di Kew Gardens, London. 

Menurut Raja Juli, tantangan global saat ini bukan lagi sekadar meningkatkan ambisi dalam agenda iklim dan kehutanan, melainkan memastikan ambisi tersebut diwujudkan melalui aksi nyata yang terukur di lapangan melalui kemitraan, kerja sama praktis, dan investasi berkelanjutan.

Dalam forum tersebut, Indonesia menyampaikan tiga agenda strategis yang menjadi kontribusi sekaligus bentuk kepemimpinan Indonesia dalam tata kelola kehutanan global.

Agenda pertama adalah pengembangan pasar karbon berintegritas tinggi (high-integrity carbon market) untuk mendukung pembiayaan konservasi, restorasi ekosistem, pengelolaan hutan lestari, serta pemberdayaan masyarakat dalam menjaga kawasan hutan.

Pemerintah, kata Raja Juli, terus memperkuat tata kelola karbon melalui penyempurnaan regulasi nasional guna memberikan kepastian hukum, transparansi, dan kredibilitas lingkungan dalam perdagangan karbon sektor kehutanan.

“Pasar karbon yang berintegritas dapat menjadi instrumen penting untuk menjembatani kebutuhan pendanaan global bagi perlindungan dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (24/6). 

Agenda kedua adalah penguatan peran International Tropical Peatland Center (ITPC) sebagai platform global untuk kerja sama, pengembangan ilmu pengetahuan, pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas, dan inovasi dalam pengelolaan lahan gambut tropis.

Indonesia saat ini memiliki sekitar 13 juta hektare ekosistem gambut tropis yang menjadi salah satu penyimpan karbon terbesar di dunia sekaligus berperan penting dalam menjaga ketahanan iklim dan keanekaragaman hayati.

Melalui forum tersebut, Indonesia mengajak negara-negara anggota FCLP memperluas kolaborasi melalui ITPC guna mempercepat pengembangan solusi berbasis sains dan praktik terbaik dalam pengelolaan gambut tropis.

Sementara itu, agenda ketiga adalah penguatan World Mangrove Center (WMC) sebagai pusat kolaborasi internasional yang mendukung pertukaran pengetahuan, pengembangan kebijakan, riset, inovasi, dan peningkatan kapasitas dalam pengelolaan mangrove.

Indonesia mengundang negara-negara anggota FCLP untuk bergabung dan berkontribusi dalam memperkuat WMC sehingga manfaat pengetahuan, teknologi, dan pengalaman pengelolaan mangrove dapat dirasakan lebih luas oleh berbagai negara.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menjadikan mangrove sebagai salah satu solusi berbasis alam yang efektif dalam mitigasi perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati, penguatan ketahanan wilayah pesisir, dan pembangunan ekonomi masyarakat.

Sebagai negara yang memiliki sekitar 3,4 juta hektare mangrove atau sekitar 23 persen dari total mangrove dunia, Indonesia menyatakan siap berbagi pengalaman dan praktik baik guna mendukung agenda mangrove global.

Pada kesempatan itu, Indonesia juga menegaskan kesiapannya untuk memperdalam keterlibatan dalam FCLP dan memperkuat kolaborasi dengan negara-negara serta mitra pembangunan dalam mewujudkan solusi kehutanan yang ambisius, inklusif, dan dapat diimplementasikan.

Partisipasi Indonesia dalam forum tersebut sekaligus menunjukkan peran aktif Indonesia sebagai negara pemilik hutan tropis terbesar ketiga di dunia dalam menghadirkan solusi global bagi pencapaian target iklim, pelestarian keanekaragaman hayati, dan pembangunan berkelanjutan. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *