
PRESIDEN Prabowo Subianto secara terbuka meminta dukungan strategis dari Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (NU) untuk menghentikan kebocoran kekayaan negara yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Dalam pidatonya di penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6), Presiden mengungkapkan data mengejutkan mengenai aliran dana keluar negeri yang mencapai ribuan triliun rupiah.
Data Kebocoran: Surplus yang Mengalir Keluar
Presiden memaparkan bahwa selama 22 tahun terakhir, Indonesia sebenarnya mencatat surplus perdagangan yang signifikan sebesar 436 miliar dolar AS. Namun, ironisnya, sekitar 346 miliar dolar AS atau setara dengan Rp5.800 triliun justru mengalir ke luar negeri dan hanya dinikmati oleh segelintir pihak.
- Anggaran negara selalu terasa kurang meski kaya sumber daya alam.
- Kesejahteraan guru dan aparatur negara sulit ditingkatkan secara signifikan.
- Kondisi bangsa diibaratkan seperti tubuh yang terus kehilangan darah (lemah).
Transformasi Sistem dan Peran NU sebagai Stabilisator
Menanggapi fenomena “pendarahan” ekonomi tersebut, Presiden menegaskan bahwa Indonesia memerlukan sistem yang mampu menyelamatkan dan menjaga kekayaan negara. Penguatan sistem ini menjadi krusial agar penyimpangan yang memperkaya segelintir orang dapat dihentikan secara permanen.
Prabowo juga memberikan apresiasi tinggi kepada NU yang dinilai sebagai faktor stabilisator bangsa. “Saya selalu merasa nyaman di tengah Keluarga Besar NU, nyaman dan aman, karena NU memang organisasi keagamaan, tetapi sangat nasionalis, patriotik, dan cinta tanah air,” tegasnya.
| Poin Utama Pidato | Detail Komitmen |
|---|---|
| Penyelamatan Aset | Membangun sistem untuk mencegah aliran modal keluar (capital flight). |
| Program Sosial | Melanjutkan Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk rakyat kecil. |
| Sumpah Jabatan | Menjalankan UUD 1945 dan memberantas penyimpangan ekonomi. |
Dukungan PBNU terhadap Langkah Pemerintah
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyambut baik kehadiran Presiden dan menegaskan komitmen NU untuk terus menjaga stabilitas serta mendukung pembangunan nasional. Senada dengan itu, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menyatakan bahwa NU akan terus mendukung pemerintah selama kebijakan yang diambil berorientasi pada kemaslahatan rakyat.
Langkah Presiden Prabowo yang membawa data konkret ke hadapan para kiai dan ulama ini menandakan babak baru dalam transparansi pengelolaan kekayaan negara, di mana dukungan moral dari organisasi massa terbesar di Indonesia menjadi kunci dalam mengawal transformasi sistem ekonomi nasional. (Ant/I-1)
