Biaya Logistik Indonesia Terlalu Tinggi, Ganggu Efisiensi Industri
ilustrasi(Antara)

Biaya logistik di Indonesia yang masih tertahan di kisaran 23%-24% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi tantangan serius bagi efisiensi industri nasional. Angka ini terpaut jauh dibandingkan negara-negara industri maju yang berhasil menekan biaya logistik hingga ke level 8%-12%.

Komisaris PT Pelindo (Persero), Arief Poyuono, menyatakan bahwa tingginya biaya tersebut menjadi faktor utama yang menggerus daya saing ekonomi Indonesia di kancah global. Menurutnya, kondisi ini memerlukan penguatan sistem rantai pasok yang komprehensif.

“Biaya logistik Indonesia saat ini yang hampir dua kali lipat dibandingkan negara-negara industri menjadi salah satu faktor yang mengurangi efisiensi industri nasional,” ujar Arief dalam keterangan resmi, Selasa (22/9).

Integrasi dan Digitalisasi Proses Bisnis

Arief menekankan bahwa perbaikan logistik tidak boleh hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur fisik seperti pelabuhan dan jalan. Ia mengidentifikasi empat tantangan besar yang harus segera diatasi: integrasi rantai pasok, kepastian waktu pengiriman, digitalisasi proses bisnis, serta sinkronisasi antar pemangku kepentingan.

Dalam sistem produksi modern yang mengandalkan ketepatan waktu (just-in-time), keterlambatan distribusi dapat mengganggu seluruh proses produksi dan pemenuhan permintaan pasar. Oleh karena itu, pengembangan ekosistem digital dinilai menjadi solusi krusial untuk menghubungkan produksi, distribusi, inventori, hingga pembiayaan.

Langkah-langkah strategis yang diusulkan meliputi:

  • Digitalisasi proses kepabeanan.
  • Pertukaran data logistik secara real-time.
  • Pengaturan distribusi berbasis waktu.
  • Pengembangan pusat logistik terintegrasi.

Platform Adhara dan Konektivitas Multimoda

Salah satu terobosan yang diusulkan Arief adalah implementasi platform Adhara. Ekosistem digital ini dirancang untuk menghubungkan pelaku usaha, penyedia jasa logistik, lembaga pembiayaan, dan pembeli internasional dalam satu wadah guna menjamin transparansi dan kepastian transaksi.

Arief mencontohkan, sistem yang terintegrasi dapat mempermudah akses pembiayaan bagi pelaku usaha di sektor pertanian, manufaktur, dan komoditas ekspor melalui keterhubungan data pergudangan dan transaksi perdagangan.

Selain aspek digital, penguatan konektivitas fisik juga tetap menjadi prioritas melalui optimalisasi angkutan berbasis kereta api dan transportasi laut. Pengembangan kawasan ekonomi yang terhubung langsung dengan jalur perdagangan internasional serta peningkatan investasi pada riset dan teknologi menjadi agenda yang harus berjalan beriringan.

“Indonesia memiliki sumber daya yang sangat besar. Tantangan berikutnya adalah membangun sistem logistik yang mampu menghubungkan seluruh potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang efisien, modern, dan terintegrasi,” pungkas Arief. (E-3)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *