
MENTERI Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, melontarkan peringatan keras mengenai masa depan ekonomi negaranya. Dalam sebuah opini yang dimuat di New York Post pada Selasa (23/6), Hegseth menegaskan bahwa stabilitas ekonomi AS tidak akan mampu bertahan tanpa dukungan superioritas militer yang tak terbantahkan.
Hegseth berargumen bahwa kesehatan fiskal bangsa tidak semata-mata bergantung pada penghematan anggaran, melainkan pada kekuatan Pentagon. Menurutnya, selama puluhan tahun, militer AS telah menjadi fondasi utama kemakmuran nasional, mulai dari menjaga dominasi Mata Uang Rupiah terhadap dolar di pasar global hingga melindungi jalur perdagangan internasional.
“Jika Amerika kehilangan keunggulan militernya yang tak terbantahkan, maka penghematan fiskal sebesar apa pun tidak akan mampu menjaga kesehatan ekonomi bangsa ini,” tulis Hegseth dalam opininya.
Korelasi Militer dan Dominasi Ekonomi
Lebih lanjut, Hegseth menjelaskan bahwa status AS sebagai kekuatan militer terbesar di dunia memberikan stabilitas dan keuntungan ekonomi yang hampir tanpa batas. Dominasi ini memungkinkan Washington untuk:
- Meminjam dana dengan syarat-syarat yang sangat menguntungkan.
- Melakukan transaksi perdagangan bebas di seluruh dunia.
- Menetapkan aturan main dalam sistem perdagangan internasional.
Ia memperingatkan bahwa tanpa keunggulan tersebut, pasar keuangan, investasi, dan lapangan kerja di Amerika Serikat akan berada dalam ancaman ketidakstabilan yang serius. Hegseth bahkan menyebut bahwa ancaman terbesar bagi keamanan nasional saat ini bukanlah defisit anggaran, melainkan kurangnya investasi dalam belanja militer.
| Aspek | Dampak Kekuatan Militer |
| Keuangan | Memungkinkan pinjaman dengan syarat menguntungkan. |
| Perdagangan | Melindungi jalur global dan menetapkan aturan internasional. |
| Mata Uang | Menopang dominasi dolar sebagai cadangan devisa dunia. |
Respons Rusia dan Kebijakan Trump
Pernyataan Hegseth ini sejalan dengan arah kebijakan Presiden Donald Trump yang sebelumnya mengumumkan langkah radikal untuk memperkuat pertahanan. Trump berencana melibatkan perusahaan otomotif Amerika dalam produksi senjata skala besar, termasuk rudal jelajah Tomahawk dan sistem pertahanan udara Patriot.
Namun, langkah ini memicu kritik dari pihak eksternal. Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk nyata dari meningkatnya militerisasi ekonomi AS. Menurut Peskov, langkah ini diambil setelah konflik di Timur Tengah dan pengiriman senjata besar-besaran ke Ukraina telah menguras persediaan militer Washington secara signifikan.
Ketergantungan ekonomi pada kekuatan senjata ini kini menjadi perdebatan hangat, di mana Washington memandang militer sebagai pelindung aset, sementara kritikus melihatnya sebagai tanda ekonomi yang semakin bergantung pada industri perang. (Ant/I-1)
