
DI tengah masifnya digitalisasi, keamanan siber kini bukan lagi sekadar urusan teknis perusahaan, melainkan telah menjadi kebutuhan mendasar setiap rumah tangga. Namun, studi terbaru dari Kaspersky mengungkapkan adanya kesenjangan yang signifikan antara kesadaran akan bahaya daring dengan tindakan nyata dalam melindungi perangkat keluarga.
Berdasarkan riset pasar yang dilakukan Kaspersky pada November 2025 terhadap 3.000 responden di 15 negara, termasuk Indonesia, muncul fenomena menarik mengenai peran “Manajer Digital Keluarga” (Family Digital Manager). Sosok ini biasanya merupakan satu atau dua orang dalam keluarga yang secara sukarela bertanggung jawab mengelola langganan, menyiapkan perangkat baru, hingga memikirkan perlindungan siber bagi anggota keluarga lainnya.
Kesenjangan Kesadaran vs Implementasi
Data menunjukkan bahwa meskipun diskusi mengenai keamanan online cukup sering dilakukan, implementasi perlindungan menyeluruh masih rendah. Di Indonesia, tren ini terlihat lebih positif dibandingkan rata-rata global, namun tetap menunjukkan celah risiko yang lebar.
| Indikator Keamanan Siber | Global | Indonesia |
|---|---|---|
| Mendiskusikan Keamanan Online | 47% | 53% |
| Mengamankan Seluruh Perangkat Keluarga | 33% | 38% |
| Tidak Mengambil Tindakan Perlindungan | 10% | 4% |
Langkah Edukatif di Indonesia Lebih Tinggi
Masyarakat Indonesia cenderung lebih proaktif dalam hal edukasi dan penggunaan alat pendukung keamanan dibandingkan rata-rata responden global. Berikut adalah rincian langkah-langkah yang diambil oleh para pengelola digital keluarga:
| Tindakan Proaktif | Global | Indonesia |
|---|---|---|
| Melatih lansia dan anak-anak tentang praktik aman | 47% | 53% |
| Menyarankan penggunaan pengelola kata sandi | 45% | 65% |
| Mendorong Otentikasi Multi-Faktor (MFA) | 42% | 49% |
| Menyesuaikan pengaturan privasi perangkat | 42% | 50% |
Tantangan pada Generasi Senior
Penelitian ini juga menyoroti kerentanan pada generasi yang lebih tua (usia 55 tahun ke atas). Secara global, 21% dari kelompok usia ini tidak mengambil tindakan perlindungan apa pun bagi keluarga mereka. Hanya 24% yang memasang solusi keamanan untuk anggota keluarga, dengan langkah paling populer adalah merekomendasikan pengelola kata sandi (40%).
Marina Titova, Wakil Presiden Bisnis Konsumen di Kaspersky, menekankan bahwa setiap jam tambahan yang dihabiskan secara daring memperluas area serangan bagi pelaku kejahatan siber. “Tidak setiap generasi dapat beradaptasi dengan perubahan ini dengan mudah. Itulah mengapa perlindungan komprehensif untuk semua anggota keluarga sangat penting,” ujarnya.
Pakar Kaspersky mengingatkan bahwa ancaman siber saat ini tidak hanya menyasar PC, tetapi juga perangkat seluler dan tablet yang sering kali menjadi target utama. Pendekatan keamanan multi-perangkat yang terintegrasi menjadi kunci utama untuk memastikan lingkungan digital keluarga tetap aman di masa depan.
