Jalan Melenceng PSSI
Akhmad Mustain Wartawan Media Indonesia(MI/Seno)

SEPAK terjang Jepang dan Korea Selatan (Korsel) di Piala Dunia 2026 semakin menegaskan bahwa sepak bola Asia telah naik level. Tim-tim dari ‘Benua Kuning’ bukan lagi pelengkap turnamen, melainkan tim tangguh yang kompetitif dengan negara-negara Eropa dan Amerika Latin.

Baik Jepang maupun Korsel sukses menunjukkan kualitas yang membuat lawan-lawan mereka harus waspada. Korsel sukses menekuk Ceko 2-1. Jepang bisa bangkit dari ketertinggalan untuk memaksa Belanda bermain imbang 2-2.

Di pertandingan kedua, giliran Jepang yang menghancurkan Tunisia empat gol tanpa balas. Sebaliknya, Korsel dipaksa menyerah satu gol terhadap tuan rumah Meksiko, lewat proses gol yang dihasilkan karena tabrakan kiper Korsel Kim Sunggyu dan bek Lee Kihyuk.

Rekam jejak mereka di Piala Dunia 2022 juga masih segar dalam ingatan. Saat itu, Jepang sukses mengalahkan dua raksasa Eropa, Spanyol dan Jerman. Empat tahun lalu, Korsel yang merupakan semifinalis Piala Dunia 2002 juga lolos ke 16 besar meskipun takluk oleh Brasil.

Secara historis, Korsel menjadi negara Asia dengan jumlah penampilan terbanyak di Piala Dunia. ‘Taegeuk Warriors’ telah tampil dalam 12 edisi turnamen tersebut. Jepang menyusul dengan delapan penampilan, sedangkan Iran dan Arab Saudi masing-masing telah tujuh kali berpartisipasi.

Perkembangan pesat sepak bola Korsel dan Jepang itulah yang mestinya menjadi kiblat membangun sepak bola Tanah Air. Korsel dan Jepang membangun iklim sepak bola mereka dengan telaten dan dari tingkat paling bawah. Bahkan, Jepang membangun ekosistem sejak dari lapangan-lapangan ekstrakurikuler sekolah dasar.

Setiap sekolah memiliki klub sepak bola dan didukung pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan disupervisi asosiasi sepak bola Jepang, JFA. Kolaborasi sektor pendidikan itu menjadi sesuatu yang khas dari pengembangan sepak bola ‘Samurai Biru’.

Mari tengok situasi di Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang justru mengisi timnas dengan pemain naturalisasi. Puluhan warga negara asing yang telah dinaturalisasi PSSI demi proyek jangka pendek mengejar tampil di Piala Dunia 2026 berakhir gagal.

Bahkan, dalam pertandingan melawan Bahrain pada putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, starting line up timnas Indonesia diisi sepuluh pemain naturalisasi. Secara persentase, pemain yang benar-benar lahir dari rahim sepak bola negeri ini hanya mendapat porsi kurang dari 10%, tepatnya 9,09%.

Padahal, atlet yang berlaga di ajang internasional jelas merupakan etalase dari bangsa yang dibelanya. Mereka membawa nama dan kebanggaan seluruh rakyat yang diwakili. Dengan gencarnya proses naturalisasi, timnas Indonesia tidak mencerminkan ekosistem sepak bola bangsa ini.

Masifnya pemain naturalisasi juga memunculkan kekhawatiran dalam pembinaan pemain. Tugas utama yang semestinya diperankan dengan sungguh-sungguh oleh PSSI.

Ke mana blueprint Garuda Mendunia 2045 yang diluncurkan pada Kongres PSSI 2023? Program yang digagas Ketua Umum PSSI Erick Thohir itu dirancang dengan target besarnya ialah Indonesia tembus peringkat 50 besar FIFA pada 2045.

Program itu bertumpu pada empat pilar, yakni pembinaan usia dini, tata kelola profesional dan transparan, peningkatan prestasi, serta komitmen program jangka panjang.

Jika melihat kenyataan timnas saat ini, blueprint itu sekedar bagus di atas kertas. Pasalnya PSSI lebih memilih untuk melakukan naturalisasi warga negara asing untuk diajak masuk timnas. Artinya, empat pilar pembinaan yang jadi tumpuan Garuda Mendunia 2045 tak dijalankan.

Pejabat PSSI juga mestinya sadar, dalam setiap posisi di timnas ‘Garuda’, di situlah tergantung mimpi jutaan anak-anak bangsa yang ingin berkarier dalam sepak bola.

Menjadi pemain timnas merupakan sebuah pencapaian tertinggi atlet sepak bola yang merintis kariernya secara serius lewat sebuah iklim kompetisi yang berat dan pahit. Bagi pemain sepak bola, timnas ialah puncak karier dan harus ditempatkan di posisi paling sakral.

Jika euforia naturalisasi terus berlarut, ditambah absennya proses pembinaan pemain muda, tentu sulit rasanya akan akan sejajar dengan bangsa-bangsa di Asia, apalagi di dunia. Bangsa ini ialah bangsa besar yang seharusnya tidak sekadar bercita-cita lolos putaran final Piala Dunia, tapi mampu membangun mentalitas kompetitif di level dunia.

Jadi, sebenarnya mimpi lolos ke putaran final Piala Dunia dengan proyek masif naturalisasi ini milik siapa? Jika itu hanya ambisi sepihak Erick Thohir dkk, segeralah bangun dari tidur.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *