Bisakah Manusia Mengubah Mars Jadi Layak Huni? Ilmuwan Mulai Susun Rencananya
Ilustrasi karya seniman yang menggambarkan proses terraforming Mars — mengubahnya menjadi dunia yang lebih mirip Bumi.(Daein Ballard, CC BY-SA)

Gagasan untuk mengubah lingkungan ekstrem Mars agar menjadi tempat tinggal yang ramah bagi manusia, atau yang dikenal dengan istilah terraforming, bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Sejumlah ilmuwan kini tengah aktif meneliti cara mengubah iklim dingin Planet Merah tersebut agar dapat dihuni oleh umat manusia di masa depan.

Salah satu gagasan utama yang diusulkan adalah menyebarkan aerosol ke atmosfer Mars. Langkah ini diproyeksikan sebagai tahap awal untuk memicu efek rumah kaca buatan yang dapat menghangatkan planet tersebut. Bersamaan dengan itu, muncul bidang studi baru bernama “astrobiologi terapan” yang berfokus menilai kebutuhan dasar dalam menciptakan habitat dan biosfer berkelanjutan di luar Bumi.

Para peneliti telah menyusun sebuah peta jalan (roadmap) penelitian untuk menguji kelayakan rencana ini. Penting untuk dicatat bahwa peta jalan tersebut tidak berasumsi bahwa menghangatkan Mars adalah hal yang mutlak diinginkan. Tujuan utamanya adalah mengidentifikasi apa saja yang diperlukan, berapa biayanya, serta risiko apa saja yang bisa terjadi.

Edwin Kite, seorang profesor rekanan ilmu geofisika di University of Chicago, memaparkan rencana tersebut dalam forum Space Resources Roundtable di Colorado School of Mines. Ia menampilkan cetak biru misi purwarupa untuk memvalidasi pelepasan aerosol di atmosfer Mars.

“Menciptakan habitat dan biosfer yang berkelanjutan di luar Bumi adalah tantangan ilmiah dan teknis yang sangat besar, tetapi itu adalah tantangan yang harus kita atasi jika kita ingin memperpanjang keberadaan kehidupan di luar Bumi,” kata Kite kepada Space.com.

Ia menambahkan bahwa manusia saat ini belum tahu banyak cara untuk menciptakan biosfer dari nol. “Astrobiologi terapan, seperti halnya ilmu keplanetan, membutuhkan kontribusi dari banyak disiplin ilmu,” ujarnya.

Menurut Kite, investasi penelitian yang relatif kecil saat ini dapat menjaga peluang perluasan kehidupan di luar Bumi tetap terbuka, sembari eksplorasi ilmiah di Mars terus berjalan.

Selain penggunaan aerosol, beberapa pendekatan lain yang diidentifikasi mencakup penggunaan membran rumah kaca berbasis zat padat. Teknologi ini dinilai memberikan manfaat jangka pendek yang paling dekat, terutama untuk mendukung sistem pertanian berbasis kelembapan serta penyediaan penopang hidup di pangkalan manusia. Penggunaan reflektor orbit (cermin raksasa) juga dipertimbangkan untuk menghangatkan area berskala menengah di sekitar pangkalan.

Untuk menguji konsep pelepasan partikel buatan ini, tim peneliti berencana melakukan simulasi tahun ini di Planetary Aeolian Laboratory (PAL) milik NASA di Ames Research Center, California. Fasilitas tersebut dapat menyimulasikan lingkungan atmosfer dari berbagai planet. Purwarupa muatan otomatis yang disiapkan nantinya akan menguji pelepasan sekitar 1 kilogram partikel artifisial berukuran sub-mikron di Mars, lalu melacak penyebarannya menggunakan laser hingga ketinggian 500 meter.

Kendati demikian, para ilmuwan menekankan bahwa jalan menuju terraforming yang sesungguhnya masih sangat panjang. Berdasarkan dokumen penelitian yang dipimpin oleh Kite, pemanasan dalam skala beberapa kilometer saja setidaknya membutuhkan waktu satu dekade ke depan, sementara modifikasi lingkungan yang lebih luas akan memerlukan investasi berkelanjutan selama berabad-abad. (Space/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *