
PEMERINTAH Kabupaten Ciamis melalui dinas terkait menetapkan Desa Buniseuri, Kecamatan Cipaku, sebagai pilot project atau proyek percontohan Kampung Bebas Jentik. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya preventif yang masif dalam menekan angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah tersebut.
Penetapan Desa Buniseuri sebagai model percontohan didasari oleh komitmen kuat perangkat desa dan tingginya partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Program ini menitikberatkan pada pemberdayaan warga untuk menjadi pemantau jentik di rumah masing-masing secara mandiri.
Pemberdayaan Kader dan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik
Dalam implementasinya, program Kampung Bebas Jentik di Desa Buniseuri mengedepankan gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (Juru Pemantau Jentik). Para kader kesehatan setempat diberikan pelatihan khusus untuk melakukan edukasi kepada warga mengenai cara mengidentifikasi dan membasmi sarang nyamuk Aedes aegypti.
Kepala desa setempat menyatakan bahwa keterlibatan masyarakat adalah kunci utama. Warga tidak hanya diajak untuk melakukan kerja bakti rutin, tetapi juga diedukasi untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus (Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang barang bekas) secara konsisten setiap minggu.
- Pemeriksaan jentik secara berkala di tempat penampungan air.
- Edukasi pemanfaatan tanaman pengusir nyamuk seperti lavender dan serai.
- Penerapan sanksi sosial atau pemberian apresiasi bagi lingkungan RT/RW yang berhasil mempertahankan status nol jentik.
Menekan Angka DBD di Kabupaten Ciamis
Keberhasilan Desa Buniseuri dalam menjalankan program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Kabupaten Ciamis. Data kesehatan menunjukkan bahwa wilayah dengan angka bebas jentik (ABJ) di atas 95% memiliki risiko penularan DBD yang jauh lebih rendah.
Pemerintah daerah berharap, melalui pilot project ini, kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan tidak hanya muncul saat terjadi lonjakan kasus, melainkan menjadi gaya hidup sehari-hari. Dengan lingkungan yang bersih dari jentik, risiko penyebaran penyakit berbasis lingkungan lainnya juga dapat diminimalisasi secara signifikan.
Hingga saat ini, tim kesehatan terus melakukan pemantauan dan evaluasi berkala di Desa Buniseuri untuk memastikan keberlanjutan program dan efektivitasnya dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari ancaman nyamuk pembawa penyakit.
