Trump Usul Suriah Tangani Hizbullah, Picu Ketegangan dengan Israel dan Libanon
Donald Trump dan Ahmad Al-Sharaa.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump memicu gelombang kontroversi diplomatik setelah menyarankan agar Israel membiarkan Suriah menangani kelompok militan Hizbullah di Libanon. Trump mengklaim bahwa Damaskus akan melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam meredam kekuatan kelompok yang didukung Iran tersebut.

Usulan yang disampaikan Trump sebanyak dua kali dalam bulan ini menyentuh luka lama dan kecemasan mendalam di Libanon. Hal ini mengingat sejarah panjang intervensi militer Suriah di negara tersebut serta latar belakang jihadis dari penguasa baru Suriah saat ini.

Ketegangan Trump dan Netanyahu

Pernyataan Trump itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara dirinya dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Trump secara terbuka menyatakan rasa frustrasinya dan meminta Netanyahu untuk lebih bertanggung jawab terkait Libanon.

Trump meyakini bahwa serangan Israel terhadap Hizbullah justru mempersulit upaya AS untuk mencapai kesepakatan besar dengan Iran. Namun, Netanyahu memberikan reaksi keras terhadap kerangka kerja AS-Iran tersebut.

“Dia Presiden Amerika Serikat dan saya Perdana Menteri Israel. Saya bertanggung jawab atas kepentingan keamanan Israel,” tegas Netanyahu dalam konferensi pers, Senin (15/6) malam. Ia juga memastikan bahwa Israel tidak berniat menarik pasukannya dari Libanon selatan, Jalur Gaza, maupun Suriah.

Reaksi Keras Israel: Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan kanan, Itamar Ben Gvir, mengecam keras usulan Trump. “Ide untuk mempercayakan keamanan kami ke tangan teroris, pemenggal kepala, dan pembunuh gadis-gadis muda tidak akan pernah terjadi,” ujarnya merujuk pada latar belakang rezim baru Suriah.

Kekhawatiran di Libanon

Di Libanon, prospek kembalinya pengaruh Suriah dipandang sebagai ancaman kedaulatan. Suriah pernah mendominasi panggung politik Libanon selama hampir tiga dekade sejak 1976, periode yang diwarnai dengan ribuan kasus penghilangan paksa dan kematian.

Hubungan Suriah dan Hizbullah telah berubah drastis. Jika sebelumnya mereka bersekutu di bawah Bashar al-Assad, jatuhnya Assad pada 2024 membawa Ahmad al-Sharaa ke tampuk kekuasaan. Al-Sharaa, mantan jihadis yang kini cenderung mendekat ke Barat, mengusir kelompok-kelompok bersenjata dukungan Iran dari Suriah.

Michael Young, pakar Libanon dari Carnegie Middle East Center, menyebut ide Trump sebagai gagasan yang sepenuhnya tidak masuk akal. Menurutnya, intervensi Suriah justru berisiko merusak keseimbangan sektarian yang rapuh di Lebanon.

“Dimensi sektarian di sini sangat berisiko. Hal itu akan memecah belah Libanon dan menjadi bencana. Masuknya tentara Suriah yang didominasi kelompok Salafi akan menciptakan kepanikan di kalangan umat Kristen, Druze, dan Syiah. Ini justru akan memperkuat posisi Hizbullah daripada melemahkannya,” jelas Young kepada CNN, Selasa (16/6).

Sikap Presiden Suriah

Meskipun mendapat pujian dari Trump sebagai orang kuat dan petarung, Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa pekan lalu membantah laporan mengenai rencana intervensi militer ke Libanon. Ia menegaskan bahwa kabar yang beredar tersebut sepenuhnya palsu.

Hingga saat ini, belum jelas apakah usulan Trump tersebut berarti pengerahan pasukan Suriah ke Libanon selatan atau sekadar memutus jalur pasokan senjata Hizbullah secara paksa. Namun, opsi mana pun dipastikan akan menyeret Libanon kembali ke dalam pusaran konflik regional yang lebih luas. (I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *