
PERHELATANĀ Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi magnet bagi para pecinta sepak bola di Jawa Tengah, tetapi juga menjadi mesin penggerak ekonomi kerakyatan yang luar biasa. Ratusan titik nonton bareng (nobar) yang tersebar di berbagai daerah mampu mempercepat putaran ekonomi melalui keterlibatan aktif pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Data dari lembaga TV nasional, terdapat sebanyak 496 titik nobar digelar serentak, mulai dari alun-alun, kafe, restoran, hingga halaman kantor pemerintahan. Momentum ini dimanfaatkan oleh ribuan warga untuk menikmati pertandingan sekaligus menjadi ladang rezeki bagi pedagang kecil.
- Sukarman (45), pedagang minuman di Kudus: Mampu mengantongi keuntungan Rp150.000 hingga Rp200.000 per malam.
- Pemilik Warmindo di Pekalongan: Mengaku warungnya tiga kali lebih ramai dari hari biasa saat laga berlangsung.
- Pedagang Keliling di Semarang: Merasakan lonjakan pendapatan di titik nobar Jalan Pahlawan dan Lapangan Tlogosari.
Di Kabupaten Kudus, kemeriahan terpusat di Alun-alun Simpang Tujuh. Meski udara malam terasa dingin, ribuan warga tetap memadati lokasi. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kudus, Satria Agus Himawan, mengungkapkan bahwa pihaknya sengaja memfasilitasi 20 tenda UMKM untuk menjajakan produk kuliner dan kebutuhan masyarakat.
“Pengunjung tidak hanya menikmati pertandingan sepak bola, tetapi juga dapat berbelanja dan mencicipi aneka produk lokal yang dijual para pelaku UMKM,” ujar Satria. Kehadiran tenda-tenda ini diharapkan dapat terus meningkatkan aktivitas ekonomi selama turnamen berlangsung.
Kondisi serupa juga terlihat di Pekalongan, Semarang, dan Jepara sejak laga perdana dimulai pada Jumat (12/6). Di Jepara, Pemerintah Kabupaten setempat juga menyelenggarakan nobar yang memberikan dampak langsung bagi pemilik warung di sekitar Jalan Kartini dan wilayah lainnya. Sinergi antara hiburan olahraga dan dukungan terhadap UMKM ini terbukti efektif dalam menghidupkan kembali denyut ekonomi daerah di malam hari. (H-4)
