Berpikir Komputasional Perlu Diterapkan Dalam PAUD di Indonesia
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Guru Besar Universitas Trisakti sekaligus Ketua Umum Forum Kebijakan Publik Indonesia (FKPI), Prof. Dr. Trubus Rahardiansyah, mengatakan bahwa pendidikan anak usia dini atau PAUD memiliki dasar yang kuat untuk menanamkan karakter-karakter terkait dengan lingkungan sosial maupun pengenalan terhadap dirinya sendiri. 

Pasalnya, PAUD dapat membentuk keberanian, prestasi, inovasi, hingga kreativitas, sehingga fase pendidikan ini menjadi sangat strategis bagi perkembangan anak. 

“Menurut saya penting bagaimana peran guru, karena pendidik menjadi kunci karena di sini lah anak-anak PAUD meneladani apa yang dilakukan oleh para guru. Jadi guru memang menduduki posisi yang sangat bukan lagi strategis, tapi menentukan tentang bagaimana pola bebiasaan maupun perilaku termasuk juga pola pengembangan diri anak dalam soal belajar, dalam hal pergaulan, dalam hal mengendalikan emosinya itu kan sangat tergantung kepada bagaimana guru memberikan keteladanan,” ungkapnya dalam acara FKPI di Jakarta, Kamis (18/6). 

Untuk itu, menurutnya pemerintah perlu memberikan dukungan dalam penyelenggaraan PAUD. Trubus menilai bahwa selama ini PAUD masih banyak diselenggarakan oleh swasta dan pemerintah sudah hadir, namun belum optimal. 

“Itu masih jauh dari harapan, karena itu kehadiran negara dalam hal ini melalui instrumennya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah itu agar memperhatikan sungguh-sungguh terkait dengan PAUD ini dan bagaimana PAUD ini ke depannya, karena ini menyangkut tidak saja bersifat jangka pendek, tapi juga menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan ke depan seperti apa,” ujar Trubus. 

Untuk itu, menurutnya diperlukan sinergitas agar penyelenggaraan PAUD dapat berjalan maksimal untuk menunjang masa depan anak-anak Indonesia. Salah satu hal yang dapat didorong ialah keterlibatan perusahaan melalui dana CSR. 

“Jadi bagaimana BUMN dan BUMD harusnya juga memberikan support yang besar terhadap penyelenggaraan PAUD ini sehingga termasuk di dalamnya adalah memberikan semacam dukungan secara material mungkin juga dukungan secara infrastruktur, ada tempat sekolahnya kemudian permainannya, alat-alatnya, dan sebagainya,“ tuturnya. 

Menurut Trubus, salah satu hal yang dapat didorong dalam penyelenggaraan PAUD juga ialah Computational thinking (CT) yang merupakan proses melatih anak memecahkan masalah secara logis, sistematis, dan terstruktur melalui permainan edukatif atau aktivitas sehari-hari.

“Jadi ini dikembangkan tidak hanya konteksnya antarwilayah yang berbeda-beda, tapi bagaimana juga memperkenalkan permainan kearifan lokal di sekarang ini banyak sekali permainan-permainan yang sebenarnya sudah tidak ada lagi, di kampung saya dulu ada namanya gobak sodor, jadi perlu diperkenalkanya kearifan lokal ltermasuk jenis-jenis tarian, nyanyian dan sebagainya dan bagaimana juga dia penghormatan kepada orangtua, kepada leluhur,” jelas Trubus. 

Di tempat yang sama, Dosen PAUD Universitas Panca Sakti Bekasi, Irma Yuliantina, menekankan bahwa dengan CT, Indonesia dapat membangun cara berpikir anak di usia dini. 

“Ketika ingin membangun cara berpikir anak, otomatis yang ingin dibangun kan harus gurunya dulu tuh sehingga guru bisa memberikan dukungan cara membangun berpikir komputasionalnya,” ujar Irma. 

Irma mengakui bahwa saat ini terdapat kendala untuk mengajak para guru memberikan dukungan penerapan CT kepada anak-anak. Terlebih kesejahteraan para guru PAUD masih sangat rendah. 

“Guru-guru kita itu yang S1 PAUD itu hanya 13%. Selebihnya 50% nya itu ada S1 non-PAUD kemudian ada yang malah belum S1. Sehingga kita memang perlu kerja sama bareng-bareng bagaimana praktik baik yang sudah dilakukan misalnya di Kudus sudah memberikan pelatihan yang berkesinambungan itu bisa diterapkan juga di tempat lain,” urainya. 

Melalui CT, Irma meyakini bahwa persoalan rendahnya literasi anak dalam skor PISA juga dapat teratasi.

“Berpikir komputasional itu kita mengajak kamu kalau menulis kira-kira apa yang ingin kamu tulis.  Jadi apa maknanya gitu kan. Jadi kita lebih mengajak si anaknya tuh lebih memahami. Sebenarnya dengan pembelajaran mendalam (deep learning) sekarang tuh nyambung karena kita ingin si anak lebih memahami maknanya, paham apa yang dikerjakannya gitu kan. Itu sebenarnya lebih nyambung lagi,” tandas Irma. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *