
TRADISI Kirab 1 Sura Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tetap terselenggara dengan lancar dan sakral pada Selasa malam hingga Rabu dini hari (17/6). Meski masih dibayangi suasana dualisme kepemimpinan pasca-wafatnya SISKS Pakoe Boewono (PB) XIII pada November 2025, prosesi tahunan ini justru mencatatkan peningkatan jumlah peserta.
Wartawan senior budaya, Won Poerwono, yang telah mengamati tradisi ini selama lebih dari tiga dekade, menyebut gelaran tahun ini sangat istimewa. Menurutnya, jumlah paraga (peserta) keraton yang terlibat jauh lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Patut disyukuri, jumlah peserta kali ini lebih banyak dari biasanya. Pada tahun Be 1960 dalam kalender Jawa ini, candrasengkala berbunyi Luhuring Rasa Agatra Budaya. Ini sebuah momentum istimewa untuk pelestarian budaya,” ujar Won.
Senada dengan itu, pemerhati budaya Wisnukisawa menilai makna candrasengkala tersebut menumbuhkan harapan baik. “Kita tetap meninggikan rasa untuk melestarikan budaya Jawa dalam situasi apa pun,” tuturnya.
Dinamika Internal dan Keputusan Kirab
Di tengah situasi dualisme, Purbaya yang disebut sebagai PB XIV memutuskan untuk tidak menggelar kirab pusaka versinya. Pengageng Paran Parakarsa PB XIV kubu Purbaya, KPAAd Nur Wijaya Adiningrat (Kanjeng Dany), menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil pada menit-menit terakhir demi pertimbangan keamanan pusaka keraton.
“Keputusan tidak menggelar kirab sesuai dawuh PB XIV Purbaya. Pertimbangannya banyak, termasuk keselamatan pusaka keraton,” jelas Kanjeng Dany pada Rabu dini hari. Ia menambahkan bahwa peringatan Malam 1 Suro tetap diisi dengan kegiatan lain, seperti doa bersama dan haul dalem Paku Buwono X.
14 Pusaka dan Simbol Tahta
Di sisi lain, Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta tetap melaksanakan prosesi kirab. Ketua LDA, GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, menyatakan bahwa sebanyak 14 pusaka keraton dikeluarkan dalam prosesi kali ini.
“Keluarnya 14 pusaka yang dikirab menjadi penanda siapa yang bertahta. Ini adalah tradisi yang sudah ada sejak era PB X,” tegas Gusti Moeng di Kori Kamandungan saat menyerahkan pusaka cemeti kepada srati (pawang) kebo bule keturunan Kiai Slamet.
Rute kirab sepanjang 3,6 km tetap mempertahankan jalur tradisional, mulai dari Keraton menuju Gladag, Jl. Kapten Mulyadi, Baturono, Gemblegan, Nonongan, hingga kembali ke Keraton. Puluhan ribu warga menyemut di sepanjang jalan untuk ngalap berkah, mulai dari memperebutkan janur hingga kotoran kebo bule yang dipercaya membawa kesuburan bagi lahan pertanian.
Selain di Keraton Kasunanan, Pura Mangkunegaran juga menggelar tradisi serupa dengan prosesi Laku Topo Bisu mengelilingi tembok pura. Peserta yang mengenakan pakaian serba hitam berjalan dalam keheningan sebagai bentuk refleksi diri.
Sejumlah tokoh tampak hadir dalam prosesi di Mangkunegaran, di antaranya politisi PDIP Bambang Wuryanto (Bambang Pacul), Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, serta Wali Kota Solo Respati Ardi.
Walikota Respati Ardi, yang mengikuti prosesi bersama istrinya, Venessa, menyatakan kekagumannya atas kekhidmatan acara tersebut. “Ini merupakan warisan pusaka leluhur yang harus diteruskan kepada generasi mendatang. Malam 1 Sura bukan sekadar tradisi, tapi momentum untuk merenung dan memperbaiki diri menyongsong masa depan,” pungkasnya. (WJ/E-4)
