Kepercayaan Investor Masih dalam Tahap Pemulihan meski Rupiah Tunjukkan Penguatan
ilustrasi(MI)

PENGUATAN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir dinilai menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional. Meski demikian, pelaku pasar menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa kepercayaan investor terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah telah pulih sepenuhnya.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan penguatan rupiah mencerminkan ketahanan fundamental ekonomi Indonesia di tengah berbagai ketidakpastian global. Namun, pergerakan tersebut belum dapat dijadikan indikator bahwa kepercayaan pasar telah kembali secara permanen.

“Penguatan nilai tukar Rupiah belakangan ini merupakan sinyal positif yang mencerminkan ketahanan fundamental ekonomi nasional di tengah gejolak global, namun tentu masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa kepercayaan pasar telah pulih sepenuhnya secara permanen,” kata Sutopo saat dihubungi, Rabu (17/6).

Menurut dia, penguatan rupiah lebih banyak ditopang kombinasi kebijakan pemerintah dan otoritas moneter yang konsisten, masuknya arus modal asing, serta ekspektasi pasar terhadap stabilitas kebijakan ekonomi ke depan.

“Penguatan tersebut lebih banyak didorong oleh kombinasi intervensi kebijakan yang konsisten, arus modal asing, serta antisipasi pasar terhadap stabilitas kebijakan fiskal dan moneter ke depan,” terangnya.

Sutopo menilai kredibilitas pemerintah di mata investor akan sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga keberlanjutan kebijakan dalam jangka panjang, terutama terkait disiplin fiskal dan pengendalian inflasi.

“Kredibilitas pemerintah akan sangat bergantung pada keberlanjutan kebijakan tersebut dalam jangka panjang—khususnya efisiensi fiskal dan ketahanan terhadap inflasi—sehingga para investor cenderung tetap bersikap ‘wait and see’ untuk memastikan apakah tren penguatan ini berakar pada struktur ekonomi yang kokoh atau sekadar reaksi temporer terhadap sentimen pasar,” jelasnya.

Di sisi lain, penguatan pasar saham juga dinilai mendapat dorongan dari berbagai langkah stabilisasi yang dilakukan pemerintah dan pelaku pasar. Salah satunya adalah aksi buyback saham emiten badan usaha milik negara (BUMN) yang berhasil meredam tekanan jual di pasar.

Ia menambahkan, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah muncul kesepakatan damai antara AS dan Iran turut memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

“Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah pasca kesepakatan damai AS-Iran memberikan angin segar bagi pasar modal Indonesia, terutama karena penurunan harga minyak mentah global mampu meredakan tekanan inflasi dan meningkatkan minat pada aset berisiko,” imbuh dia.

Menurut Sutopo, selama kondisi geopolitik global tetap stabil dan fundamental ekonomi domestik terjaga, pasar saham Indonesia masih memiliki ruang untuk melanjutkan tren penguatan.

“Jika kondisi geopolitik tetap stabil dan fundamental ekonomi makro tetap terjaga, IHSG memiliki potensi besar untuk melanjutkan tren penguatannya menuju level normal yang lebih tinggi, meski investor tetap perlu mewaspadai volatilitas eksternal yang sewaktu-waktu dapat memengaruhi sentimen arus modal di pasar negara berkembang,” pungkasnya. (Fal/P-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *