
PARA ilmuwan kemungkinan besar telah berhasil menangkap sinyal peringatan dini dari matahari sebelum terjadinya erupsi besar. Menggunakan kumpulan data langka yang direkam beberapa jam sebelum badai suar matahari (solar flare) raksasa, tim peneliti berhasil mengidentifikasi serangkaian perubahan tidak biasa di atmosfer matahari. Penemuan ini memberikan petunjuk baru mengenai bagaimana ledakan besar bermula sekaligus berpotensi meningkatkan akurasi prakiraan cuaca antariksa di masa depan.
Dalam studi terbarunya, peneliti Louis Seyfritz dari New Jersey Institute of Technology bersama rekan-rekannya memanfaatkan momen berharga dari satelit Interface Region Imaging Spectrograph (IRIS) milik NASA. Secara kebetulan, satelit tersebut tengah mengamati area titik matahari yang aktif secara intensif. Hasilnya, peneliti mendapatkan data pengamatan tanpa henti selama hampir lima jam tepat sebelum suar matahari super kuat berkelas X9 meletus.
Melalui data IRIS, tim peneliti melacak tiga properti utama plasma pada atmosfer matahari, yaitu tingkat kecerahan, pergerakan plasma (mendekati atau menjauhi pengamat), serta kecepatan non-termal yang mengukur tingkat turbulensi atau pergolakan skala kecil di dalam plasma.
Hasil analisis menunjukkan ketiga properti tersebut mulai melonjak secara konsisten sekitar tiga jam sebelum erupsi terjadi. Kondisi ini mengindikasikan medan magnet matahari secara bertahap menjadi sangat tidak stabil. Seyfritz menjelaskan akumulasi tanda-tanda pra-ledakan dalam durasi sepanjang ini merupakan fenomena yang sangat jarang terdokumentasikan.
Selain peningkatan tiga elemen tersebut, tim mendeteksi adanya fluktuasi atau siklus naik-turun yang teratur pada plasma. Gelombang naik-turun ini berulang setiap 7 hingga 10 menit, serta ada pula siklus yang muncul setiap 18 hingga 21 menit. Pergolakan ini terpusat di area batas pertemuan dua medan magnet yang saling berlawanan, titik di mana tekanan magnetis masif biasanya menumpuk sebelum memicu ledakan.
“Jika kita melihat osilasi (naik-turun gelombang) tersebut terjadi sebelum suar meletus, hal itu bisa menjadi indikator kuat bahwa ledakan besar akan segera terjadi,” ujar Seyfritz kepada Space.com.
Sekitar 15 hingga 20 menit sebelum puncak suar X9 terjadi, atmosfer matahari bergeser ke fase yang jauh lebih bergejolak. Turbulensi melonjak drastis dan plasma menyembur keluar dengan kecepatan tinggi, mencerminkan pelepasan energi magnetik secara tiba-tiba yang menjadi motor penggerak utama badai matahari. (Space/Z-2)
