
MAHKAMAH Agung Brasil menjatuhkan hukuman empat tahun dua bulan penjara kepada Eduardo Bolsonaro, Selasa (16/6). Hukuman ini diberikan setelah ia mendesak Amerika Serikat untuk menjatuhkan sanksi kepada negaranya sendiri di tengah proses peradilan kasus kudeta yang menjerat sang ayah.
Eduardo, yang merupakan putra ketiga dari mantan presiden berhaluan sayap kanan, Jair Bolsonaro, berupaya menarik simpati AS demi ayahnya. Saat ini, Jair Bolsonaro sendiri tengah menjalani hukuman 27 tahun penjara atas dakwaan perencanaan kudeta pada tahun 2022 lalu.
Empat hakim Mahkamah Agung memenangkan tuntutan jaksa yang mendakwa Eduardo atas tindakan “mengancam otoritas yudisial dan pejabat dari cabang pemerintahan lainnya”. Ancaman tersebut ia sampaikan dengan menyatakan bahwa dirinya akan mengupayakan sanksi dari AS jika proses peradilan tidak berakhir menguntungkan bagi ayahnya.
Selain hukuman kurungan, Eduardo juga akan dilarang memegang jabatan publik selama delapan tahun setelah menyelesaikan masa hukumannya. Meski demikian, ia masih memiliki hak untuk mengajukan banding. Hakim Alexandre de Moraes memberikan catatan tegas atas tindakan Eduardo tersebut.
“Bukan peran seorang deputi federal Brasil untuk melakukan lobi di luar negeri melawan negara mereka sendiri,” ujar Hakim Alexandre de Moraes.
Sempat Membawa Dampak Ekonomi
Pada awalnya, siasat Eduardo sempat membuahkan hasil. Tahun lalu, Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif tinggi terhadap Brasil sebagai hukuman atas apa yang ia sebut sebagai “perburuan penyihir” terhadap Bolsonaro senior. Namun, bea masuk tersebut akhirnya dicabut kembali setelah pertemuan resmi pertama antara Presiden berhaluan kiri Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, dengan Trump.
Pemerintahan Trump sebelumnya juga sempat menjatuhkan sanksi kepada Hakim Mahkamah Agung Moraes, tetapi langkah-langkah sanksi tersebut kini telah dicabut.
Hubungan antara Washington dan Brasilia saat ini memang sedang melewati masa-masa sulit. Ketegangan ini terjadi setelah Trump bertemu dengan saudara laki-laki Eduardo yang juga merupakan kandidat presiden, Flavio Bolsonaro, menjelang pemilihan umum bulan Oktober mendatang. Sejumlah jajak pendapat memprediksi persaingan sengit akan terjadi antara Flavio Bolsonaro dan petahana Lula da Silva.
Kasus hukum ini menambah daftar masalah politik bagi Eduardo. Sebelumnya, pada bulan Desember lalu, Eduardo Bolsonaro juga telah dicopot dari kursinya di parlemen majelis rendah akibat absensi yang dinilai berlebihan. (AFP/Z-2)
