Jusuf Kalla: Masjid Harus Memakmurkan Jemaah dan jadi Pusat Peradaban
KETUA Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla (JK).(Dok. Antara)

KETUA Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla (JK), menegaskan bahwa fungsi masjid di era modern harus bertransformasi. Masjid tidak boleh hanya sekadar menjadi tempat ibadah ritual, tetapi wajib berperan aktif dalam memakmurkan jemaah dan menjadi pusat peradaban umat.

Hal tersebut disampaikan JK saat memberikan sambutan pada peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah yang berlangsung di Masjid Agung Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/6/2026). Menurutnya, paradigma pengelolaan masjid perlu diperluas.

“Selama ini kita hanya berbicara memakmurkan masjid. Padahal masjid juga harus memakmurkan jemaahnya. Masjid tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, pengembangan ekonomi, dan kemajuan masyarakat,” ujar JK dalam keterangan resminya.

Pilar Peradaban: Ilmu dan Ekonomi

Mantan Wakil Presiden RI tersebut menekankan bahwa kemajuan sebuah peradaban sangat bergantung pada tiga pilar utama: penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kekuatan ekonomi. Ia mendorong pengurus masjid di seluruh Indonesia untuk mulai memfasilitasi kegiatan pendidikan dan kewirausahaan bagi masyarakat sekitar.

“Peradaban dibangun oleh ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemampuan berusaha. Tanpa itu, sulit bagi umat untuk maju dan beradab,” tegasnya.

Meneladani Etos Kerja Rasulullah

Dalam pidatonya, JK mengingatkan kembali sejarah Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dalam kemandirian ekonomi. Ia menyoroti fakta bahwa Rasulullah memiliki rekam jejak sebagai pedagang yang sukses jauh sebelum masa kenabiannya.

“Rasulullah lebih lama menjadi pedagang daripada masa kenabiannya. Karena itu, semangat berusaha dan bekerja keras juga merupakan bagian dari sunnah yang harus dicontoh,” kata JK.

Selain itu, ia juga memberikan apresiasi tinggi terhadap peran perempuan dalam sejarah Islam, dengan mengambil contoh Siti Khadijah. Menurutnya, dukungan finansial dan moral dari Siti Khadijah merupakan faktor krusial dalam keberhasilan dakwah Islam di masa awal.

“Kalau tidak ada Siti Khadijah yang mendukung dan membiayai perjuangan Rasulullah, tentu dakwah Islam tidak akan mudah berkembang. Karena itu, peran ibu-ibu sangat penting dalam kemajuan umat,” tambahnya.

Momentum Evaluasi 1 Muharam

Menutup sambutannya, Jusuf Kalla mengajak seluruh umat Islam untuk menjadikan momentum Tahun Baru Hijriah 1448 H sebagai ajang evaluasi diri. Ia berharap peringatan ini tidak berhenti pada seremoni semata, melainkan menjadi titik balik peningkatan kualitas ibadah dan kemandirian ekonomi.

“Makna Tahun Baru Hijriah bukan sekadar perayaan, tetapi momentum evaluasi dan perbaikan diri agar umat Islam semakin maju, berilmu, dan sejahtera,” pungkasnya. (Ant/H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *