
MENTERI Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan kesepakatan damai dengan Amerika Serikat mewajibkan Israel untuk menarik seluruh pasukannya dari Libanon. Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran global bahwa Israel dapat merusak upaya diplomatik untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
“Tanpa penarikan pasukan Israel dari wilayah yang mereka duduki selama perang ini, perang belum sepenuhnya berakhir,” ujar Araghchi.
Kondisi ini diperkuat oleh pernyataan resmi hubungan media Hizbullah, yang mengeklaim telah menerima jaminan dari Iran bahwa tuntutan penarikan pasukan Israel akan menjadi agenda utama dalam fase negosiasi berikutnya dengan AS.
Kritik tajam justru datang dari sekutu utama Israel, Donald Trump. Berbicara di KTT G7 di Jenewa, Trump mengecam Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan memintanya untuk bertindak “lebih bertanggung jawab di Libanon”. Trump bahkan melabeli pengeboman Israel baru-baru ini di Beirut sebagai tindakan yang “kejam”.
“Israel telah melawan Hizbullah terlalu lama dan terlalu banyak orang yang terbunuh,” kata Trump. “Anda tidak perlu merobohkan bangunan apartemen saat sedang mencari seseorang karena ada banyak orang di dalam bangunan apartemen tersebut, dan saya bisa katakan kepada Anda, mereka tidak semuanya Hizbullah.”
Trump juga menyatakan ketidaksukaannya terhadap langkah Israel yang menyerang Beirut hanya dua jam sebelum Iran dijadwalkan menandatangani memorandum gencatan senjata 60 hari yang ia negosiasikan.
Rencana Investasi US$300 Miliar dan Syarat Nuklir
Di sisi lain, para pemimpin Eropa di KTT G7 Évian, Prancis, mempertanyakan daya tahan rencana perdamaian ini. Muncul proposal dari negara-negara Teluk untuk menginvestasikan dana hingga US$300 miliar ke dalam perekonomian Iran sebagai imbalan jika Teheran terbukti menolak senjata nuklir.
Wakil Presiden AS, JD Vance, menjelaskan dana tersebut murni investasi komersial dari negara Teluk dan bukan bersumber dari keuangan pemerintah AS.
“Kami sangat terbuka bagi negara-negara pesisir Teluk untuk berinvestasi dalam rekonstruksi Iran, tetapi hanya jika Iran mengakhiri program nuklir mereka, mengakhiri timbunan material yang diperkaya, dan benar-benar terbuka terhadap rezim inspeksi dan penegakan hukum yang memberikan kepercayaan kepada rakyat Amerika bahwa mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” jelas Vance.
Sumber dari Iran menyebutkan kesepakatan tersebut membuka opsi pembuangan uranium yang diperkaya tinggi dan penurunan tingkat kemurnian stok menjadi 3,67% untuk kebutuhan sipil. Namun, teks tersebut tetap mempertahankan hak Iran untuk memperkaya uranium di dalam negeri, yang menjadi batasan mutlak bagi Teheran. (The Guardian/Z-2)
