Indonesia Kian Strategis dalam Ekosistem Budaya Korea
Brand menerima penghargaan berkat kolaborasi dengan artis/IP Koera Selatan.(K-Playlist)

K-Playlist kembali menyelenggarakan ajang penghargaan tahunan K-Playlist Annual Community Award (KACA) 2026 sebagai bentuk apresiasi terhadap berbagai jenama yang sukses menghadirkan kolaborasi bersama artis maupun intellectual property (IP) Korea Selatan dan memperoleh dukungan kuat dari komunitas penggemar di Indonesia.

Penghargaan yang telah memasuki tahun ketiga penyelenggaraan ini mengandalkan mekanisme pemungutan suara komunitas yang dilakukan dalam dua tahap, yakni babak penyisihan dan final. Melalui sistem tersebut, KACA menjadi wadah representasi suara penggemar dalam menentukan kolaborasi brand dan figur global yang dianggap paling berpengaruh sepanjang tahun. Selain itu, ajang ini juga menunjukkan semakin pentingnya posisi Indonesia sebagai salah satu pasar dengan basis penggemar budaya Korea terbesar dan paling aktif di dunia.

Pada tahun ini, KACA menghadirkan dua kategori utama, yaitu Best Brand Collaboration of the Year dan Brand Collaboration of the Year, yang menyoroti kolaborasi paling inovatif, relevan, dan memberikan dampak signifikan sepanjang 2025.

Untuk kategori Best Brand Collaboration of the Year, penghargaan Brand Ambassador diraih oleh kolaborasi Sunsilk dan BABYMONSTER, sementara kategori IP Licensing dimenangkan oleh Jims Honey melalui kolaborasinya dengan TinyTAN yang terinspirasi dari BTS. Sementara itu, kategori Brand Collaboration of the Year diberikan kepada Biore UV x Stray Kids, Good Day x BABYMONSTER, serta Scarlett x Heart2Hearts.

Hasil penghargaan tahun ini menunjukkan bahwa kerja sama antara brand dan artis global tidak hanya mampu meningkatkan kesadaran merek, tetapi juga membangun keterlibatan yang kuat dengan komunitas penggemar. Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa brand yang memahami kekuatan fandom dan berani berinovasi memiliki peluang lebih besar untuk bersaing di tingkat internasional.

Co-Founder K-Playlist, Jennifer Heryanto, menjelaskan bahwa kolaborasi antara brand dan budaya Korea kini telah berkembang menjadi fenomena global yang melampaui pasar Asia.

Menurutnya, sepanjang tahun ini terdapat sedikitnya 27 brand yang produknya dipasarkan di Indonesia dan menjalin kerja sama dengan artis maupun IP Korea. Indonesia sendiri menjadi salah satu kontributor terbesar basis penggemar bagi banyak artis Korea.

“Kolaborasi brand dan K-Wave saat ini tidak lagi berfokus pada satu negara saja. Banyak kampanye yang dirancang untuk menjangkau pasar regional hingga global seiring semakin kuatnya posisi K-Culture sebagai fenomena budaya lintas negara,” ujar Jennifer.

Ia juga menyoroti besarnya pengaruh K-Wave dalam dunia pemasaran modern. Berdasarkan sejumlah studi mengenai Earned Media Value (EMV), K-Wave disebut berkontribusi sekitar 48% terhadap share of voice dalam ekosistem global influence.

Menurut Jennifer, data tersebut menunjukkan bahwa budaya Korea telah berkembang menjadi salah satu kekuatan pemasaran paling berpengaruh di dunia, tidak hanya di Asia tetapi juga di berbagai pasar internasional. Karena itu, kolaborasi antara brand dan K-Culture dinilai bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan strategi jangka panjang yang mampu menciptakan dampak lintas pasar.

“Di tengah era ketika budaya populer menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi perilaku konsumen, brand yang mampu mengintegrasikan K-Culture secara autentik dan strategis akan memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan perhatian dan kepercayaan konsumen,” imbuhnya.

Melalui penyelenggaraan KACA, K-Playlist berharap dapat terus menjadi platform apresiasi sekaligus referensi bagi pelaku industri dalam menghadirkan kolaborasi yang inovatif, relevan, dan memiliki dampak nyata. Inisiatif ini juga diharapkan mendorong lahirnya strategi pemasaran yang semakin autentik dan sesuai dengan perkembangan perilaku konsumen saat ini. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *