
BADAN Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menunjukkan komitmennya dalam membangun industri kelapa sawit berkelanjutan dengan menyelenggarakan Pelatihan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama BPDB dengan PT Forestcitra Sejahtera (Mutu Institute), yang digelar pada 15–20 Juli 2026 di Hotel Rattan Inn Kalimantan Selatan.
Direktur PT Forestcitra Sejahtera (Mutu Institute), Wahyu Riyadi, dalam penyampaiannya menyebutkan bahwa pelatihan tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
“Peningkatan kapasitas SDM menjadi kunci agar pekebun tidak hanya mampu mengikuti aturan, tetapi juga memperoleh manfaat nyata dari penerapan standar keberlanjutan,” tuturnya Senin (15/6).
Menurut Wahyu, Pelatihan Implementasi ISPO tidak hanya meningkatkan kompetensi pekebun, tetapi juga menjadi bagian dari upaya besar membangun masa depan kelapa sawit rakyat yang lebih kuat, tertib, dan berkelanjutan.
“Kelapa sawit yang dikelola dengan baik mampu memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi pekebun, menciptakan lapangan kerja, mendukung pembangunan daerah, dan memenuhi kebutuhan berbagai sektor,” sebut Wahyu.
“Oleh karena itu, kelapa sawit perlu dipandang secara adil sebagai komoditas yang bernilai tinggi dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat,” tambahnya.
Pelatihan bertajuk Implementasi ISPO, diikuti 88 petani kelapa sawit swadaya dari Kabupaten Tanah Laut dan Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Materi yang disampaikan dalam kegiatan itu berkaitan dengan prinsip dan kriteria ISPO, legalitas kebun, praktik budidaya yang baik, pengelolaan lingkungan, kelembagaan petani, serta peningkatan produktivitas.
Pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pekebun tentang standar sertifikasi ISPO serta memperkuat kemampuan mereka dalam mengelola kebun secara legal, produktif, tertib, dan berkelanjutan.
Pembukaan pelatihan ISPO itu, secara resmi dilakukan Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, Suparmi, SM.
Dalam sambutannya, Suparmi menegaskan bahwa ISPO harus dipahami sebagai instrumen penting untuk memperkuat posisi pekebun sawit swadaya di pasar global. Ia menambahkan bahwa pengetahuan yang memadai akan membantu pekebun memenuhi ketentuan keberlanjutan, memperbaiki tata kelola kebun, serta meningkatkan daya saing hasil perkebunan.
“Pelatihan ini diharapkan menjadi bekal bagi pekebun untuk semakin siap menerapkan prinsip ISPO di kebun masing-masing,” ujarnya.
Selama enam hari pelatihan, peserta mengikuti proses pembelajaran yang disusun agar mudah dipahami dan dapat langsung diterapkan di kebun masing-masing. Kehadiran petani dari Tanah Laut dan Tanah Bumbu menunjukkan semangat yang terus tumbuh untuk memperbaiki tata kelola sawit rakyat di Kalimantan Selatan.
Kegiatan ini juga menjadi ruang berbagi pengalaman, membangun kesadaran, dan memperkuat komitmen bersama dalam mengelola kelapa sawit secara bertanggung jawab.
Melalui kegiatan itu pula, peserta tidak hanya belajar mengenai aspek teknis dan administratif, tetapi juga memahami pentingnya tata kelola kebun yang berorientasi keberlanjutan. (E-2)
