
KEPALA Center for Sharia Economic Development Institute for Development of Economics and Finance (CSED Indef), Nur Hidayah, menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional. Pelemahan ini dianggap sebagai sinyal bagi pemerintah untuk meningkatkan kepercayaan pasar melalui konsistensi kebijakan.
Dalam beberapa pekan terakhir, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level sekitar Rp18.190 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada saat yang sama, IHSG terkoreksi tajam ke kisaran 5.400-5.800 seiring derasnya aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing.
“Pasar sedang mengirim sinyal yang tidak boleh diabaikan. Rupiah menembus sekitar Rp18 ribu per dolar, investor asing juga melakukan net sell yang sangat besar, IHSG terkoreksi signifikan,” ujar Nur dalam diskusi daring Indef, Minggu (14/6).
Nur menjelaskan bahwa meski faktor global seperti kebijakan Donald Trump dan suku bunga The Fed berpengaruh, pasar juga sedang menyoroti faktor domestik. Ia menekankan bahwa investor mulai meragukan target pertumbuhan ekonomi 8% karena mesin pertumbuhan lama, seperti konsumsi rumah tangga dan sektor manufaktur, mulai melambat.
Selain itu, penyusutan jumlah kelas menengah hingga 10 juta orang dalam lima tahun terakhir menurut data BPS menjadi perhatian serius. “Investor tidak takut pada risiko, mereka takut pada ketidakpastian. Ketidakpastian institusional biasanya dihukum lebih keras daripada risiko ekonomi biasa,” tegasnya.
Di tengah situasi ini, Nur mendorong optimalisasi ekonomi syariah sebagai penyangga ketahanan nasional. Dengan aset keuangan syariah yang mencapai hampir Rp3.000 triliun, sektor ini dinilai memiliki potensi besar sebagai shock absorption saat ekonomi konvensional tertekan.
Pemerintah diharapkan segera memberikan kejelasan arah pembangunan dan menjaga ruang fiskal APBN agar tetap kredibel di mata investor global guna meredam gejolak pasar lebih lanjut. (Z-10)
