
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai bukan hanya program bantuan pangan, melainkan investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia di masa depan. Karena itu, keberlanjutan dan tata kelola program tersebut harus dijaga agar manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi mendatang.
Pandangan itu disampaikan praktisi kuliner sekaligus pengajar Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Universitas Pertahanan Jawel Husin atau dikenal sebagai The Singing Chef melalui surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto, Minggu (14/6/2026).
Dalam suratnya, Jawel menegaskan MBG ialah program strategis nasional yang berdampak jangka panjang pada pembangunan bangsa. Menurutnya, investasi terbesar sebuah negara bukan hanya pembangunan infrastruktur fisik, melainkan pembangunan kualitas manusia sejak usia dini.
“Program MBG ialah investasi bangsa untuk masa depan. Program ini tak hanya menyediakan makanan, tetapi juga membangun generasi lebih sehat, cerdas, dan siap menghadapi tantangan Indonesia Emas 2045,” tulis Jawel.
Menurut dia, keberhasilan program MBG akan memberikan efek berantai yang besar bagi Indonesia. Selain meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi anak-anak, program itu berpotensi meningkatkan kemampuan belajar, produktivitas, serta daya saing generasi muda di masa depan.
Namun demikian, Jawel mengingatkan investasi jangka panjang tersebut dapat terancam apabila tata kelola program tidak dijalankan secara transparan dan akuntabel. Ia mengaku prihatin atas munculnya kasus korupsi yang menyeret sejumlah pihak di Badan Gizi Nasional (BGN).
Menurutnya, kasus itu tak hanya mencoreng kepercayaan publik terhadap program MBG, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran bagi mitra pelaksana yang berinvestasi dan berkontribusi mendukung program pemerintah.
“Korupsi harus diberantas tanpa kompromi. Namun, negara harus hadir melindungi mereka yang bekerja jujur dan mematuhi aturan,” katanya.
Jawel menilai ribuan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yayasan, UMKM, investor, hingga penyedia jasa telah menanamkan investasi besar demi mendukung keberhasilan MBG. Mereka membangun dapur produksi, membeli peralatan, merekrut tenaga kerja, serta membangun rantai pasok pangan sesuai standar yang ditetapkan pemerintah.
Bahkan, menurut dia, tidak sedikit pelaku usaha yang menggunakan tabungan pribadi, menjual aset, hingga mengajukan pinjaman perbankan karena percaya pada visi besar pemerintah dalam menciptakan generasi Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas.
“Ada yang memakai tabungan keluarga, menjual aset, bahkan mengajukan pinjaman ke bank karena percaya pada visi besar negara. Mereka tidak boleh jadi korban kesalahan yang dilakukan segelintir orang,” ujarnya.
Karena itu, Jawel meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan atas program MBG. Salah satunya dengan memberikan kepastian hukum serta perlindungan kepada para mitra yang menjalankan kewajibannya sesuai aturan.
Selain itu, ia mendorong dilakukan pembenahan menyeluruh terhadap tata kelola BGN melalui penguatan sistem pengawasan, transparansi, dan akuntabilitas. Menurutnya, keberlanjutan sebuah program investasi SDM sebesar MBG hanya dapat terjamin jika dikelola profesional dan terbuka. “Kepercayaan publik hanya bisa dibangun lewat tata kelola profesional, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan,” tulisnya.
Jawel juga menekankan pentingnya komunikasi intensif antara pemerintah dan pelaksana program di lapangan. Pengalaman operator SPPG dan mitra pelaksana merupakan masukan berharga untuk penyempurnaan program.
Lebih lanjut, Jawel menilai MBG memiliki dampak ekonomi luas karena menciptakan ekosistem baru yang melibatkan UMKM, petani, peternak, pemasok bahan pangan, hingga ribuan tenaga kerja di berbagai daerah. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan penerima manfaat langsung, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal.
Ia menegaskan Program MBG terlalu penting untuk gagal karena menyangkut masa depan jutaan anak Indonesia sekaligus keberlangsungan usaha dan lapangan pekerjaan yang tumbuh dari ekosistem program itu. Menutup suratnya, Jawel menyatakan keyakinannya bahwa Presiden Prabowo akan mengambil langkah tepat untuk memperkuat tata kelola MBG sekaligus memastikan program tetap berjalan sesuai tujuan awalnya.
Bagi Jawel, ukuran keberhasilan MBG bukan hanya jumlah makanan yang dibagikan setiap hari, melainkan kualitas generasi Indonesia yang akan tumbuh dan berkembang berkat investasi gizi sejak sekarang. “Yang sedang kita bangun bukan sekadar dapur dan rantai distribusi pangan. Yang kita bangun ialah masa depan Indonesia,” tulisnya. (H-2)
