
KOMANDAN Batalion Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (Danyon TPNPB-OPM) Kodap XV/Kupel Ngalum Oksibil beserta 7 anggotanya resmi menyatakan keluar dari kelompok separatis. Delapan anggota aktif OPM tersebut memilih turun gunung dan mengikrarkan sumpah setia kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Prosesi penyerahan diri yang emosional ini berlangsung di Lapangan Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan, Sabtu (13/6). Langkah ini disaksikan langsung oleh pihak keluarga, tokoh adat, tokoh agama, kepala distrik, serta ratusan warga Kiwirok.
Di hadapan ratusan pasang mata, sang Danyon bersama tujuh anak buahnya melepas seluruh atribut militer milisi TPNPB-OPM yang selama ini melekat pada diri mereka. Sebagai bukti komitmen perdamaian, mereka turut menyerahkan 5 pucuk senjata api organik kepada aparat keamanan.
Senjata-senjata tersebut diterima langsung oleh Wakil Panglima Komando Operasi TNI Habema, Brigjen TNI Riyanto. Penyerahan atribut dan senjata ini langsung disambut riuh haru oleh keluarga serta perwakilan masyarakat yang memadati lapangan.
“Pertama, saya dan kita semua tentunya bersyukur, saudara kita, Kupel Ngalum Oksibil, dan 7 anggotanya aktif OPM, kembali ke pangkuan ibu pertiwi,” ujar Riyanto, Sabtu (13/6).
Riyanto mengenang masa-masa kelam Distrik Kiwirok beberapa tahun lalu saat masih menjadi salah satu zona merah yang paling rawan di pegunungan Papua. Kala itu, faksi bersenjata TPNPB-OPM kerap melancarkan infiltrasi berdarah, melakukan penyerangan pos keamanan, hingga melakukan aksi pembakaran fasilitas publik seperti gedung sekolah dan puskesmas.
“Bukan hanya itu, beberapa anggota kelompok separatis bersenjata tersebut dengan teganya memperkosa tenaga medis di puskesmas, sehingga warga memilih mengungsi meninggalkan rumah dan tanah kelahiran mereka di Distrik Kiwirok,” ungkapnya.
Namun, stigma mencekam itu kini perlahan luntur seiring dengan berjalannya waktu dan penyesuaian strategi operasi di lapangan.Riyanto menegaskan, luluhnya hati sang komandan batalion beserta anggotanya tidak lepas dari konsistensi Satgas TNI di bawah kendali Koops TNI Habema dalam menerapkan pendekatan teritorial yang humanis.
TNI mengubah pola operasi dengan menitikberatkan pada akselerasi roda perekonomian, pemulihan mutu pendidikan, dan aktivasi pelayanan kesehatan di pelosok daerah. Pola sinergi yang membaur dengan masyarakat terbukti ampuh meruntuhkan doktrin sentimen negatif dan stigma represif aparat yang selama ini disuntikkan oleh petinggi OPM kepada warga sipil Papua.
“Masa depan Papua tidak dibangun dengan permusuhan, melainkan melalui persaudaraan, dialog, dan kerja sama,” tutur Riyanto.
Riyanto melayangkan pesan terbuka bagi simpatisan maupun anggota milisi bersenjata lainnya yang saat ini masih bertahan di dalam hutan untuk tidak ragu meletakkan senjata.
“Pintu perdamaian selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin meninggalkan konflik dan ikut serta membangun kampung halamannya,” pungkasnya. (E-4)
