
TIM gabungan dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama TNI dan Polri berhasil menjinakkan kebakaran yang melanda kawasan Hutan Savana Bukit Sempana, Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain memadamkan api, petugas juga bergerak cepat mengevakuasi puluhan pendaki yang terjebak di sekitar lokasi kejadian.
Kebakaran yang melanda kawasan Hutan Lindung di bawah naungan Balai KPH Wilayah II Provinsi NTB ini diperkirakan menghanguskan lahan seluas 282 hektare. Operasi pemadaman yang berlangsung dramatis tersebut akhirnya dinyatakan tuntas pada Kamis (11/6/2026), setelah tim berjibaku dengan medan pegunungan yang terjal dan cuaca ekstrem.
Kronologi dan Operasi Pemadaman
Api pertama kali terdeteksi pada Selasa (9/6) sore yang bersumber dari arah Swela Pringabaya sebelum akhirnya merembet luas ke area Bukit Sempana. Upaya pemadaman awal sempat terkendala oleh keterbatasan logistik, kondisi gelap, serta akses yang sulit dijangkau.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan bahwa Manggala Agni tetap menjadi garda terdepan dalam menghadapi situasi sulit ini.
“Manggala Agni adalah ujung tombak negara. Mereka bekerja di medan berat untuk memastikan api tidak merusak lebih luas,” ujarnya pada Sabtu (13/6).
| Parameter | Detail Informasi |
|---|---|
| Luas Terdampak | ± 282 Hektare |
| Vegetasi Terbakar | Savana, semak belukar, pohon cemara |
| Kondisi Medan | Pegunungan terjal, berkabut, angin 12 km/jam |
| Personel Terlibat | Manggala Agni (Dalkarhut), KPH, TNI, Polri |
| Jumlah Evakuasi | 25 Pendaki/Wisatawan |
Prioritas Keselamatan Manusia
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Jawa Bali Nusa Tenggara, Bambang Setyo Antoko, menjelaskan bahwa fokus utama tim bukan hanya memutus lidah api, melainkan juga menyelamatkan nyawa manusia. Sebanyak 25 pendaki berhasil dievakuasi dari jalur pendakian guna menghindari risiko terjebak asap maupun perubahan arah angin yang tidak menentu.
“Kami melakukan penyisiran dan mopping up untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa. Di saat yang sama, evakuasi pendaki menjadi prioritas untuk mencegah jatuhnya korban jiwa,” jelas Bambang.
Dugaan Penyebab: Perburuan Liar
Hingga saat ini, pihak berwenang masih mendalami penyebab pasti kebakaran hebat tersebut. Namun, indikasi awal di lapangan menunjukkan adanya dugaan aktivitas ilegal berupa perburuan liar di sekitar kawasan hutan lindung tersebut.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat dan pengunjung untuk meningkatkan kewaspadaan. Penggunaan api secara bijak dan pelaporan dini melalui sistem Sipongi diharapkan dapat mencegah kejadian serupa terulang kembali, mengingat kawasan Sembalun memiliki nilai ekologis yang sangat vital bagi ketersediaan sumber air dan keseimbangan alam di Nusa Tenggara Barat. (Z-1)
