Stok Rudal Menipis, Donald Trump Panggil Bos Industri Pertahanan, bakal Tegang
Donald Trump.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin industri pertahanan di Gedung Putih akhir pekan ini. Pertemuan tersebut diprediksi akan berlangsung tegang seiring meningkatnya kekhawatiran atas menipisnya pasokan rudal AS di tengah eskalasi konflik dengan Iran.

Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, sekitar tujuh pemimpin perusahaan pertahanan utama akan ditekan oleh Presiden untuk segera menemukan cara meningkatkan produksi persenjataan bagi Pentagon. Pertemuan ini juga rencananya akan dihadiri oleh Wakil Menteri Pertahanan Stephen Feinberg.

Eskalasi Konflik dengan Iran

Langkah ini diambil setelah Trump menyatakan kemarahannya kepada para pembantu dan sekutunya mengenai stok persenjataan Amerika yang kian menipis. Situasi semakin mendesak setelah Iran menembak jatuh helikopter Angkatan Darat AS pada Selasa lalu. Meski kru berhasil diselamatkan, AS langsung meluncurkan serangan balasan ke Iran.

“Kami akan menyerang mereka, menyerang mereka dengan sangat keras,” tegas Trump dari Ruang Oval pada Rabu (10/6). “Kami memukul mereka dengan keras kemarin, dan kami akan memukul mereka lagi dengan keras hari ini.”

Meskipun demikian, pihak Gedung Putih menyatakan bahwa pertemuan dengan para bos industri pertahanan belum tercantum dalam jadwal resmi presiden saat ini dan ada kemungkinan untuk dijadwalkan ulang atau dibatalkan.

Krisis Stok Amunisi dan Kesiapan Militer

Operasi militer yang sedang berlangsung, termasuk Operation Epic Fury, menyingkap kerentanan stok amunisi Pentagon. Militer AS dilaporkan menghabiskan rudal dan pencegat (interceptor) pada tingkat yang mengkhawatirkan para pejabat pertahanan dan anggota parlemen.

Berdasarkan data dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), AS mengalami kekurangan senjata secara keseluruhan, terutama pada senjata presisi jarak jauh seperti:

  • Rudal Tomahawk
  • Rudal Patriot
  • Rudal udara-ke-darat (JASSM)
  • Pencegat THAAD

Sebagai gambaran, AS diperkirakan memiliki 3.100 rudal Tomahawk sebelum perang dengan Iran dimulai, tetapi telah menggunakan sekitar 1.000 unit atau lebih. CSIS memperkirakan bahwa meskipun kontrak baru ditandatangani hari ini, produksi untuk mengisi kembali stok Tomahawk bisa memakan waktu lebih dari tiga tahun.

Anggaran Fantastis untuk Pengisian Kembali

Para ahli dan pejabat di Capitol Hill memperkirakan Pentagon membutuhkan tambahan dana sebesar US$20 miliar (sekitar Rp327 triliun) untuk mulai memproduksi lebih banyak rudal guna mengembalikan level stok seperti sebelum tahun 2022.

Menanggapi hal ini, Komite Alokasi DPR AS meluncurkan proposal rancangan undang-undang pengeluaran pertahanan senilai lebih dari US$1 triliun. Fokus utamanya adalah pada peningkatan produksi amunisi.

Di sisi lain, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan bahwa militer AS memiliki lebih dari cukup amunisi untuk melayani semua tujuan strategis Presiden Trump. Ia juga menambahkan bahwa Presiden terus mendorong kontraktor pertahanan untuk memproduksi lebih banyak senjata buatan Amerika yang diklaim sebagai yang terbaik di dunia. (NBC/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *