
ISTILAH “angin duduk” sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Namun, secara medis, kondisi ini dikenal sebagai Angina pektoris, sebuah sinyal serius adanya gangguan pada otot jantung yang tidak boleh disepelekan.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FASCC, menjelaskan bahwa angina pektoris terjadi ketika otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang memadai. Padahal, sebagai organ vital, jantung membutuhkan asupan nutrisi dan oksigen yang stabil melalui pembuluh darah agar tetap berfungsi optimal.
“Kalau pembuluh darahnya terhambat, berarti ada otot jantung yang tidak mendapat pasokan oksigen secara utuh. Saat kekurangan pasokan, otot itu akan ‘menjerit’, itulah yang menyebabkan rasa nyeri atau angina,” ujar Febtusia dalam sebuah diskusi di Jakarta, dikutip Kamis (11/6)
Asal-usul Istilah Angin Duduk
Secara etimologi, Anginan berasal dari bahasa Yunani Kuno yang berarti mencekik atau menyempit, sementara pektoris berarti dada. Gejala utamanya adalah nyeri dada yang terasa seperti tertekan beban berat dan menimbulkan rasa tidak nyaman yang hebat.
Menariknya, istilah lokal “angin duduk” kemungkinan besar muncul dari perilaku penderita saat serangan terjadi. Penderita angina biasanya merasa sesak dan tidak nyaman jika berbaring santai, sehingga mereka secara naluriah akan mencari posisi duduk untuk memperbaiki pernapasan dan mengurangi rasa sakit.
Faktor Risiko dan Kerusakan Pembuluh Darah
Penyebab utama terhambatnya aliran darah ini adalah kerusakan pada dinding pembuluh darah. Febtusia mengibaratkan pembuluh darah seperti susunan batu bata yang rapi. Ketika terjadi kerusakan atau celah pada dinding tersebut, zat-zat seperti lemak atau kolesterol jahat (LDL) akan mudah menempel dan menumpuk.
Kondisi ini diperparah oleh tekanan darah tinggi (hipertensi). Batas tekanan darah yang masih bisa dikompensasi tubuh dengan baik adalah 130/80 mmHg. Jika lebih tinggi, sel-sel pembentuk dinding pembuluh darah mulai mengalami disfungsi, menciptakan tempat bagi kolesterol untuk membentuk timbunan lemak atau fatty streak.
Tabel: Faktor Risiko Utama Angina Pektoris
| Faktor Risiko | Mekanisme Dampak pada Jantung |
|---|---|
| Kolesterol Jahat (LDL) | Membentuk timbunan lemak (fatty streak) yang menyumbat pembuluh darah. |
| Hipertensi (>130/80) | Menyebabkan disfungsi sel dinding pembuluh darah sehingga lemak mudah menempel. |
| Diabetes | Kadar gula darah tinggi yang merusak struktur arteri. |
| Merokok | Karbon monoksida dan nikotin membajak sel darah merah, mengurangi pasokan oksigen. |
Bahaya Merokok bagi Oksigen Darah
Kebiasaan merokok menjadi salah satu pemicu paling berbahaya. dr. Febtusia menekankan bahwa zat berbahaya seperti karbon monoksida dan nikotin dalam rokok memiliki kemampuan untuk “membajak” sel darah merah.
“Seharusnya sel darah merah mengangkut oksigen, tetapi pada perokok, yang diangkut justru karbon monoksida. Akibatnya, kemampuan darah mengangkut oksigen berkurang drastis, regenerasi sel terganggu, dan memicu munculnya sel-sel ganas,” pungkas dokter yang berafiliasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) tersebut. (Ant/Z-1)
