Dudung Abdurachman Sebut Kemungkinan Anak Keluarga Mampu tak Dapat Makan Bergizi Gratis
Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman menyampaikan paparan saat rapat kerja dengan Komisi XIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026).(ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nym.)

KEPALA Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan mengalami penajaman sasaran yakni tanak-anak dari keluarga mampu tidak masuk sebagai penerima manfaat. Langkah ini sejalan dengan target Badan Gizi Nasional (BGN) yang tengah melakukan refocusing program agar bantuan tepat sasaran. Dudung memberikan gambaran bahwa sekolah-sekolah di kawasan perkotaan dengan latar belakang ekonomi siswa yang kuat akan dievaluasi ketat.

Contoh Kasus: “Misalnya sekolah di Jakarta ini ada SMP (Santo) Aloysius. Dia sebetulnya yang menerima manfaat yang pantas hanya 40 persen, nanti akan dihitung,” ujar Dudung dalam konferensi pers di KSP, Jakarta Pusat, Rabu (10/6).

Efisiensi Bukan Sekadar Pangkas Anggaran

Menurut Dudung, efisiensi yang dimaksud pemerintah bukan semata-mata untuk memangkas nilai anggaran, melainkan untuk memastikan intervensi gizi diberikan kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan. Pemerintah akan melihat kembali komposisi penerima di sekolah-sekolah yang dinilai memiliki kondisi ekonomi relatif lebih baik.

“Itu tadi efisiensi jadi tepat sasaran tadi, refocusing maksudnya itu. Artinya kalau misalnya ini tidak perlu, mereka anak-anak orang kaya ya enggak akan dikasih,” tegasnya.

Validasi 63 Juta Data Penerima

Senada dengan KSP, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang menyatakan bahwa pihaknya sedang menata kembali data penerima manfaat. Saat ini, tercatat ada sekitar 63 juta orang yang masuk dalam daftar awal, namun jumlah ini akan terus dievaluasi.

Nanik menilai, anak-anak di sekolah dengan fasilitas dan kondisi ekonomi mapan umumnya sudah mendapatkan asupan gizi yang baik dari rumah. Oleh karena itu, dukungan gizi dari pemerintah akan lebih diarahkan kepada mereka yang mengalami kerentanan pangan.

“Rasanya tidak perlu ya, kalau misalnya sekolah-sekolah kaya (mendapat MBG). Kan ini pasti di rumah gizinya juga lebih bagus. Jadi kita lebih arahkan nanti benar-benar pada penerima manfaat yang membutuhkan intervensi gizi,” pungkas Nanik. (H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *