
PENGURUS Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan peringatan keras terkait polusi udara yang masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global. Paparan polutan yang terus-menerus dilaporkan telah menyebabkan jutaan kematian dini setiap tahunnya, dengan kelompok anak-anak menempati posisi paling rentan.
Anggota Satuan Tugas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim (KLPI) IDAI, Dr. dr. Riyadi, Sp.A. Subsp.Inf.P.T(K), M.Kes, mengungkapkan bahwa data menunjukkan sekitar 7 juta orang meninggal lebih cepat dari usia harapan hidup seharusnya akibat polusi udara.
“Kalau kita lihat, 7 juta manusia meninggal lebih cepat dari seharusnya karena ada polusi udara. Anak termasuk yang sangat rentan,” ujar Riyadi dalam seminar media IDAI guna memperingati Hari Lingkungan Hidup, Selasa (10/6).
Mengapa Anak-Anak Lebih Berisiko?
Menurut dr. Riyadi, kerentanan anak-anak terhadap polusi udara bukan tanpa alasan medis. Secara fisiologis, saluran pernapasan anak-anak masih dalam tahap perkembangan dan memiliki diameter yang lebih sempit dibandingkan orang dewasa. Selain itu, sistem kekebalan tubuh mereka yang belum matang membuat polutan lebih mudah merusak jaringan tubuh.
Paparan polutan ini tidak hanya berdampak pada pernapasan sesaat, tetapi juga memicu berbagai gangguan kesehatan jangka panjang. Berikut adalah ringkasan dampak dan sumber polusi udara berdasarkan keterangan IDAI:
| Kategori | Detail Informasi |
|---|---|
| Sumber Polusi | Emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, kebakaran hutan, pembakaran bahan bakar, dan sampah. |
| Dampak Kesehatan Anak | Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, alergi, hingga penyakit kronis dan pelemahan sistem imun. |
| Dampak pada Janin | Gangguan pertumbuhan sejak dalam kandungan akibat paparan logam berat dan partikel halus pada ibu hamil. |
| Estimasi Dampak Global | 7 juta kematian dini per tahun di seluruh dunia. |
Kaitan dengan Perubahan Iklim
Lebih lanjut, Riyadi menjelaskan bahwa polusi udara dan perubahan iklim adalah dua hal yang saling berkaitan erat. Aktivitas manusia yang menghasilkan emisi gas rumah kaca secara otomatis menurunkan kualitas udara yang kita hirup sehari-hari.
Sebagai langkah mitigasi, IDAI mendorong adanya langkah konkret dalam pengendalian polusi. Hal ini mencakup pengurangan emisi kendaraan, transisi ke transportasi ramah lingkungan, penghentian praktik pembakaran sampah secara terbuka, serta perluasan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan. (Ant/Z-1)
Pesan Kunci: “Bumi yang sehat artinya kita juga sehat. Dampak lingkungan yang tidak baik akan dirasakan oleh seluruh kelompok usia, terutama anak-anak sebagai generasi penerus,” tutup dr. Riyadi.
