Harga Minyak Dunia Anjlok usai Gencatan Senjata Israel-Iran dan Sinyal Damai Trump
Ilustrasi.(Magnific)

HARGA minyak mentah dunia mengalami koreksi tajam pada perdagangan Selasa (9/6/2026), menghapus keuntungan yang diraih pada sesi sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik setelah Israel dan Iran sepakat untuk menghentikan baku tembak serta pernyataan optimis dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai prospek perdamaian di Timur Tengah.

Berdasarkan data pasar terbaru, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman mendatang anjlok 2,6% ke  US$88,89 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi patokan global, turun 2,2% menjadi US$92,21 per barel.

Sinyal Damai dari Gedung Putih

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di Timur Tengah kemungkinan besar dapat ditandatangani dalam dua atau tiga hari ke depan. Pernyataan ini memberikan sentimen positif bagi pasar global yang sebelumnya khawatir akan gangguan pasokan energi dari kawasan tersebut.

Meski demikian, para analis memperingatkan agar pasar tidak terlalu cepat berpuas diri. Nikos Tzabouras dari Tradu menekankan bahwa situasi di lapangan masih sangat tidak pasti.

“Situasi tetap sangat tidak menentu dan kita telah melihat banyak harapan palsu sebelumnya,” ujar Tzabouras. “Satu kemunduran diplomatik saja dapat menyulut kembali premi risiko dan mengirim harga melonjak tajam.”

Catatan Analis: Bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya, para ahli memperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan untuk memulihkan aliran minyak ke tingkat normal.

Permintaan Tiongkok Melemah

Selain faktor geopolitik, tekanan jual pada minyak juga dipicu oleh data perdagangan terbaru dari Tiongkok. Impor minyak mentah negara importir terbesar dunia tersebut dilaporkan turun drastis pada April. Para penyuling di Tiongkok lebih memilih menggunakan cadangan inventaris yang ada daripada membeli pasokan baru dari luar negeri.

Analis dari Saxo Bank mencatat penurunan impor sebesar 29% secara tahunan (year-on-year). Penurunan ini, dikombinasikan dengan lonjakan ekspor AS dan pelepasan Cadangan Minyak Strategis (SPR), menjelaskan harga minyak tidak melonjak agresif meskipun sempat terjadi gangguan pasokan bulan lalu.

Ancaman di Laut Merah Tetap Ada

Di sisi lain, meskipun ketegangan Israel-Iran mereda, risiko di jalur pelayaran internasional belum sepenuhnya hilang. Kelompok Houthi di Yaman baru-baru ini mengumumkan larangan total terhadap pelayaran terkait Israel di Laut Merah.

Analis ANZ Research menyatakan bahwa langkah ini meningkatkan risiko pada salah satu rute alternatif utama bagi minyak mentah Arab Saudi untuk mencapai pasar internasional. Ketidakpastian mengenai definisi kapal Israel menambah kompleksitas risiko navigasi di kawasan tersebut.

Untuk jangka panjang, Rystad Energy memproyeksikan bahwa kondisi defisit absolut minyak saat ini berpotensi berbalik menjadi surplus besar pada tahun 2027, tergantung pada kebijakan produksi OPEC dan dinamika permintaan global di masa depan. (Wall Street Journal/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *