80 Persen Masyarakat Indonesia Merasakan Tekanan Biaya Hidup, Literasi Keuangan Jadi Kunci Ketahanan Finansial
Ilustrasi–Sejumlah pekerja berjalan di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis (2/4/2026).(ANTARA/Salma Talita)

SUN Life Indonesia resmi meluncurkan Financial Resilience Index 2026, sebuah studi komprehensif yang memotret kondisi ketahanan ekonomi rumah tangga di tanah air. Hasil studi tersebut menempatkan lonjakan biaya hidup sebagai faktor utama yang menekan stabilitas finansial masyarakat saat ini.

Bekerja sama dengan Genpop, survei yang dilakukan pada April 2026 terhadap 1.000 responden di seluruh Indonesia ini mengungkapkan bahwa 80% masyarakat merasakan tekanan nyata akibat meningkatnya biaya kebutuhan sehari-hari.

Meski terdapat sedikit perbaikan pada kelompok masyarakat “sangat tangguh”, pemulihan ekonomi dinilai belum merata karena adanya peningkatan proporsi rumah tangga dengan ketahanan rendah.

Realitas Keuangan: Fokus Jangka Pendek Mendominasi

Tekanan ekonomi yang persisten memaksa sebagian besar masyarakat untuk memprioritaskan pengelolaan pengeluaran harian dibandingkan rencana masa depan. Data menunjukkan bahwa hampir separuh responden (48%) belum memiliki rencana keuangan jangka panjang atau hanya mampu merencanakan keuangan untuk satu tahun ke depan.

Berikut adalah ringkasan data realitas keuangan masyarakat Indonesia berdasarkan studi tersebut:









Indikator Keuangan Persentase/Data
Merasakan tekanan kenaikan biaya hidup 80%
Merasa sangat aman secara finansial 14%
Mampu bertahan >6 bulan tanpa penghasilan 45%
Prioritas utama: Pengelolaan pengeluaran harian 56%
Menggunakan tabungan untuk biaya hidup 23%

President Director Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menjelaskan bahwa temuan ini mencerminkan upaya masyarakat dalam menyeimbangkan kebutuhan mendesak dengan tujuan masa depan.

“Di tengah perubahan kondisi ekonomi, kesiapan finansial menjadi kunci utama. Peran mitra keuangan yang dapat diandalkan menjadi semakin penting untuk memberikan rasa tenang dalam menghadapi ketidakpastian,” ujarnya.

Literasi Keuangan sebagai Pembeda

Studi ini menegaskan bahwa literasi keuangan bukan sekadar pengetahuan, melainkan fondasi ketahanan. Individu yang melek finansial memiliki tingkat kepercayaan diri 53 poin lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak. Kelompok ini juga tiga kali lebih siap menghadapi lonjakan biaya hidup dan cenderung tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi di masa depan.

Perencanaan jangka panjang juga memberikan dampak signifikan. Sebanyak 86% responden yang memiliki rencana keuangan merasa yakin dapat mencapai tujuan mereka, berbanding terbalik dengan mereka yang tanpa rencana (hanya 25%).

Adopsi AI dalam Pengelolaan Keuangan

Menariknya, masyarakat Indonesia kini mulai berpaling pada teknologi untuk mencari solusi. Indonesia tercatat sebagai salah satu negara terdepan di Asia dalam adopsi Generative AI untuk panduan keuangan.






Pemanfaatan Teknologi AI Persentase
Menggunakan AI untuk informasi & panduan keuangan 68%
Memperkirakan penggunaan AI akan meningkat (12 bulan ke depan) 67%

Meski AI menjadi sarana praktis untuk membandingkan pilihan dan memahami topik keuangan, Albertus menekankan bahwa teknologi tidak menggantikan peran manusia.

“Teknologi membantu akses informasi lebih cepat, namun panduan profesional tetap menjadi sumber kepercayaan utama untuk keputusan strategis yang berdampak jangka panjang,” tambahnya.

Melalui temuan Financial Resilience Index 2026 ini, Sun Life Indonesia berkomitmen untuk terus mendorong literasi keuangan dan menyediakan solusi asuransi jiwa serta kesehatan yang komprehensif guna membantu keluarga Indonesia membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat di masa depan. (Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *